Monday, 30 March 2020

Doctor on Blogosphere

Judul tulisan di atas adalah tagline yang saya gunakan untuk blog ini. Yang dimaksud dengan tagline adalah deskripsi singkat yang tertulis di bawah judul blog. Menentukan tagline yang bagus ternyata cukup sulit. Menurut saya, kriteria tagline yang bagus adalah kalimatnya tidak terlalu panjang, tetapi bisa memberikan gambaran tentang penulis atau konten blog tersebut kepada pembacanya.

Saya perlu waktu yang cukup lama untuk menentukan tagline hingga akhirnya saya memilih deskripsi singkat yang sekarang bisa Anda lihat di bagian atas blog ini. Ya, saya ingin memperkenalkan diri sebagai seorang dokter yang juga menulis blog. Selain tulisan tentang pikiran saya yang acak, saya akan membuat beberapa tulisan tentang ilmu kedokteran dan informasi kesehatan yang semoga dapat memberikan manfaat untuk para pembaca.


Jika Anda ingin menanyakan sesuatu tentang ilmu kedokteran atau informasi kesehatan, Anda bisa menuliskannya di kolom komentar atau menghubungi saya melalui email bayufajarpratama@gmail.com. Saya akan berusaha untuk menjawab semua pertanyaan sebisanya. Terima kasih.

Thursday, 26 March 2020

Pasir dan Batu


Kisah ini menceritakan dua orang sahabat yang sedang berjalan di sepanjang gurun pasir. Selama dalam perjalanan, mereka sibuk dengan sebuah perdebatan dan salah satu dari mereka menampar wajah teman yang lain. Seorang yang tertampar mukanya itu merasakan sakit, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia menulis di atas pasir, “Hari ini teman terbaikku telah menampar wajahku”.

Mereka meneruskan perjalanan sampai akhirnya menemukan sebuah kolam dimana akhirnya mereka memutuskan untuk mandi. Seorang yang telah ditampar tadi terjebak di dalam lumpur dan dia mulai tenggelam. Temannya langsung datang untuk menyelamatkannya. Setelah selamat dari lumpur itu, dia menulis di sebuah batu, “Hari ini teman terbaikku telah menyelamatkan hidupku”.

Teman yang telah menampar dan juga menyelamatkan hidupnya itu bertanya, “Setelah aku menyakitimu, engkau menulis di atas pasir. Sekarang engkau menulis di atas batu. Mengapa?”

Temannya menjawab,
Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya di atas pasir dimana angin pengampunan akan menghapusnya. Sebaliknya, ketika seseorang berbuat baik, kita harus mengukirnya di atas batu dimana angin sekuat apa pun tidak akan mampu menghapusnya.

Tuesday, 24 March 2020

Donasi Bantu Tenaga Medis COVID-19


Bapak, Ibu, Saudara, dan teman sejawat sekeluarga semoga selalu berada dalam lindungan Allah serta diberi kesehatan dan dijauhkan dari segala bahaya. Mari kita bersama-sama membantu tenaga medis dan relawan dalam penanganan pandemi COVID-19.

Civitas akademika dan Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Riau membuka kesempatan untuk donasi. Bantuan yang dikumpulkan akan digunakan untuk pembagian hand sanitizer, APD (Alat Pelindung Diri), kegiatan edukasi, tracing, dan skrining oleh relawan.

Donasi dapat diberikan dalam bentuk uang maupun barang. Donasi dapat disalurkan melalui rekening BNI 0817547717 a.n. Vivin Leovani. Konfirmasi transfer ke dr. Vivin (0852-6440-9268).

Donasi berupa barang dapat dikirimkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Jalan Diponegoro no. 1, Pekanbaru, Riau. Konfirmasi ke Misparman, S.Pd (0812-1212-6704).

Mari bersama gotong royong melawan COVID-19!

Narahubung
  • dr. Vivin: 0852-6440-9268
  • Misparman, S.Pd: 0812-1212-6704 (khusus logistik)

Monday, 23 March 2020

Momen Bahagia

Tanggal dua puluh satu bulan Maret tahun dua ribu dua puluh menjadi salah satu tanggal yang akan selalu saya ingat. Hari itu menjadi salah satu momen yang penting dalam hidup saya. Ya, momen bahagia :)



Semoga ikatan yang telah kita buat selalu dijaga oleh Allah dan terus berlanjut hingga menjadi sepasang suami-istri dalam satu rumah tangga yang sakinah, baik di dunia maupun di surga-Nya kelak. Aamiin ya Allah, ya rabbal ‘alamin.

Thursday, 19 March 2020

Universitas Kehidupan


Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki
Dari mana kita belajar ikhlas?
Jika semua yang kita impikan segera terwujud
Dari mana kita belajar sabar?
Jika semua doa kita terus dikabulkan
Dari mana kita belajar ikhtiar?

Seseorang yang dekat dengan Tuhan
Bukan berarti tidak punya air mata
Seseorang yang taat pada Tuhan
Bukan berarti tidak punya kekurangan
Seseorang yang tekun berdoa
Bukan berarti tidak punya masa-masa sulit

Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita
Karena Tuhan tahu saat yang tepat untuk memberikan yang terbaik

Ketika kerjamu tidak dihargai
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan
Ketika usahamu dinilai tidak penting
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang keikhlasan
Ketika hatimu terluka sangat dalam
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan
Ketika kamu membayar biaya yang tidak perlu kau tanggung
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurahan hati

Tetap semangat, tetap sabar, tetap tersenyum
Karena kamu sedang menimba ilmu di universitas kehidupan

Tuhan menaruhmu di tempatmu yang sekarang bukan karena kebetulan
Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan dan kesenangan
Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata

Monday, 16 March 2020

Universitas Riau Hobi Menunda Wisuda?

Penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19) semakin meluas dan statusnya kini sudah menjadi pandemi yang menandakan bahwa penyebab COVID-19, yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), telah menginfeksi banyak orang di berbagai negara dalam waktu yang singkat. COVID-19 juga ditemukan di Indonesia. Kasus pertama diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 yang lalu dan jumlahnya kini sudah mencapai 134 kasus.

Menanggapi peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia mengeluarkan surat edaran pada tanggal 9 Maret 2020 yang memuat delapan belas poin tentang pencegahan COVID-19 pada satuan pendidikan.


Universitas Riau (UNRI) juga mengambil langkah pencegahan COVID-19 di lingkungan universitas dengan mengeluarkan surat edaran pada tanggal 15 Maret 2020 yang ditandatangani langsung oleh Rektor UNRI.


Surat edaran Rektor UNRI memancing berbagai respons dari mahasiswa UNRI. Hal ini dapat dilihat pada media sosial Instagram @mahasiswa_universitasriau yang juga memasukkan surat edaran tersebut ke timeline-nya. Poin yang cukup kontroversial adalah keputusan untuk menunda wisuda periode Maret 2020 yang semula dijadwalkan pada tanggal 18-19 Maret 2020.


Tentu Anda bisa menebak protes terhadap keputusan tersebut datang dari mana. Ya, protes paling keras datang dari mahasiswa yang rencananya akan wisuda pada bulan Maret ini. Persiapan yang sudah matang sejak jauh-jauh hari untuk menyambut seremoni paling sakral bagi mahasiswa itu menjadi kacau. Keputusan menunda wisuda dikeluarkan tiga hari sebelum jadwal pelaksanaan wisudanya. Mahasiswa menyebutkan bahwa keputusan yang dikeluarkan terkesan sepihak dan sangat mendadak. Bahkan, gladi resik wisuda seharusnya dilaksanakan pada hari ini, tanggal 16 Maret 2020. Beberapa mahasiswa dari luar Riau sudah berada di Pekanbaru dari kemarin untuk mengikuti gladi resik. Ironisnya, kemarin pula dikeluarkannya keputusan untuk menunda jadwal wisuda.

Menurut saya, hal yang membuat suasana semakin panas adalah ini bukanlah pertama kalinya UNRI mengundur jadwal wisuda “sampai batas waktu yang akan ditentukan selanjutnya”. Seingat saya, wisuda periode sebelum ini juga mengalami kemunduran jadwal. Apakah benar UNRI hobi menunda jadwal wisuda?


Sebelumnya saya tegaskan bahwa tulisan ini adalah opini pribadi. Saya adalah alumni UNRI dan juga pernah mengalami penundaan jadwal wisuda. Seingat saya, wisuda yang ditunda ketika itu adalah wisuda periode Oktober 2015. Jika Anda mahasiswa UNRI, mungkin Anda mengetahui “Gedung Gasing”. Ya, itulah tempat saya dan teman-teman seangkatan saya diwisuda ketika itu. Jika Anda tidak mengetahuinya, saya rasa cukup wajar karena gedung tersebut tak kunjung selesai dibangun hingga saat ini.

Penundaan wisuda ketika itu bukannya tanpa alasan. Penyebabnya adalah datangnya bencana kabut asap akibat Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) yang dinilai sudah sangat berbahaya, kira-kira sama dengan yang terjadi di Provinsi Riau pada tahun 2019 lalu. Kampus UNRI pun lumpuh: kuliah diliburkan, mahasiswa dirumahkan, dan wisuda diundur ke jadwal yang belum bisa dipastikan. Bagaimana perasaan kami ketika itu? Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi sekarang: banyak mahasiswa yang mengajukan protes. Namun, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Bencana itu datang tanpa permisi. Bencana datang tanpa memperhatikan kapan wisuda akan digelar. Protes seperti apa pun yang disampaikan tidak berguna. Ya, jadwal wisuda tetap ditunda. Kami memaklumi bahwa keputusan itu adalah keputusan terbaik bagi seluruh civitas akademika UNRI, termasuk para mahasiswa yang seharusnya diwisuda.

Hal tersebut juga terjadi sekarang. COVID-19 adalah bencana non-alam yang sudah ditetapkan statusnya menjadi bencana nasional. Langkah pencegahan penyebaran COVID-19 yang terus-menerus digalakkan adalah social distancing, yaitu semua orang diharapkan menghindari keramaian atau sebisa mungkin tidak membentuk “keramaian” untuk memutuskan rantai penularan penyakit. Itulah yang menjadi dasar bagi pimpinan universitas untuk menunda kegiatan wisuda kali ini.

Salah satu fakta yang menyeramkan dari COVID-19 adalah penularannya sulit diprediksi. Virus ini bisa menular melalui droplet atau percikan ludah yang dikeluarkan oleh orang yang sudah terinfeksi SARS-CoV-2. Mengapa sulit diprediksi? Orang yang sudah terinfeksi bisa saja tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali (asimptomatis). Ya, terlihat seperti orang yang sangat sehat. Periode “sehat” ketika sudah terinfeksi itu disebut dengan masa inkubasi. Bisa Anda bayangkan apa yang akan terjadi jika kita sengaja menyelenggarakan keramaian? Mungkin kita semua terlihat sehat, tetapi bisakah Anda menjamin semua orang benar-benar sehat dan tidak akan menyebarkan penyakit COVID-19? Anda bersikeras ingin tetap diwisuda? Silakan tetap menggelar wisuda, tetapi jangan sekali-sekali menyalahkan pimpinan universitas jika nantinya Anda terjangkit COVID-19, atau bahkan kemungkinan terburuknya, meninggal setelah wisuda!

Penundaan wisuda tidak hanya terjadi di UNRI. Perguruan tinggi lain juga menunda wisudanya untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Brawijaya (UB). Pada periode wisuda kali ini, UNRI tidak membatalkan wisuda tanpa kompensasi. Langkah yang diambil oleh UNRI adalah menunda pagelaran wisuda, tetapi ijazah akan tetap diberikan kepada wisudawan/wisudawati walaupun seremoninya belum diselenggarakan. Ya, Anda bisa mendapatkan ijazah yang menjadi tanda bahwa Anda sudah menyelesaikan pendidikan tinggi. Saya yakin bahwa ketika ijazah sudah diserahkan kepada mahasiswa, ijazah tersebut bisa langsung digunakan sebagaimana mestinya, seperti melamar pekerjaan. Mungkin Anda tidak merasa benar-benar lulus karena Anda harus kembali lagi untuk mengikuti wisuda, tetapi saya rasa hal itu tidaklah terlalu buruk. Saya harap pihak universitas nantinya bisa memberikan kejelasan tentang hal ini.

Marilah kita bekerja sama dan berdoa semoga penyebaran COVID-19 ini bisa segera dihentikan. Masing-masing kita bisa ikut serta untuk memutus rantai penularan penyakit ini dengan cara menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta melakukan social distancing. Salam sehat untuk kita semua ;)

Thursday, 12 March 2020

Datangnya Hidayah untuk Blogging?

Hello! I am signing in again!

Minggu lalu, saya sempat membuat tulisan di blog ini yang berjudul “Lanjut atau Pensiun Blogging?”. Percaya atau tidak, beberapa hari setelahnya, saya menemukan tulisan yang berjudul “Feel Like Giving Up? Read This”. Apakah ini yang namanya hidayah atau petunjuk? Mungkinkah ini jawaban dari kegundahan yang sedang melanda hati saya? Ya, itulah yang pertama kali saya pikirkan ketika membaca judul tulisan tersebut.


Saya memang sempat ragu untuk melanjutkan blog ini karena merasa semua waktu yang saya habiskan di blog ini sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Saya merasa gagal dan ingin berhenti! Namun, hati kecil ini terus-menerus mendorong saya untuk kembali. Ya, niat untuk terus menulis sepertinya tidak akan bisa hilang dari diri saya. Tulisan motivasi tadi menjadi salah satu kunci yang berhasil memantapkan niat saya untuk kembali menulis di blog. Sedikit mengutip kata-kata di dalamnya:
Mindset is the most important part of being a blogger. Do not focus on what you can’t do, on what could go wrong, but rather focus on what you can do.
Saya menyadari bahwa saya ditekan oleh pikiran-pikiran negatif yang mendorong saya untuk menyerah. Jika mindset negatif itu terus mendominasi, tentu saya akan berhenti. Namun, saya percaya bahwa mindset negatif itu perlahan-lahan akan menghilang jika saya terus mencoba, terus melangkah maju dan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan. Saya juga percaya bahwa tembok besar yang kokoh berawal dari batu-batu kecil yang disusun menjadi pondasinya. Ya, kesuksesan yang besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.

Oleh karena itu, saya harus terus menulis agar tulisan-tulisan saya bisa dibaca oleh banyak orang. Ya, saya akan tetap menjadi narablog ;)

Thursday, 5 March 2020

Lanjut atau Pensiun Blogging?

Pertanyaan itu terlintas begitu saja di pikiran saya: lanjut atau pensiun blogging? Saya sudah menggeluti kegiatan nge-blog ini sejak 10 tahun yang lalu. Haruskah kita berakhir cukup sampai disini?


Pertanyaan tersebut benar-benar mengganggu! Hati kecilku berkata bahwa semua hal tentang blog ini tampaknya sia-sia, tidak ada hasilnya sama sekali sampai sekarang! Dahulu kala, blog memang sempat trending dan banyak orang ingin punya blog untuk dijadikan online diary, bahkan blog dijadikan salah satu materi mata pelajaran komputer ketika saya duduk di bangku SMA. Namun, zaman sudah berubah. Blog kalah jauh dengan media sosial yang hampir pasti dimiliki oleh semua orang. Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial sudah berhasil menjatuhkan blog, bahkan orang menjadikan media sosialnya sebagai blog. Ya, benar-benar sudah tergantikan! Bukankah hal tersebut di atas sudah menjadi alasan yang cukup untuk berhenti menjadi narablog?

Mengapa Anda masih membaca tulisan ini? Apakah Anda masih berpikiran bahwa blog ini menarik? Pergi sana! Saya tidak percaya dengan Anda! Hapus dulu akun media sosial Anda! Jika Anda tidak berani menghapusnya, jangan sok berani mengatakan bahwa blog adalah platform online yang lebih baik!

* * *

Ya, tulisan ini hanyalah unek-unek yang tersimpan dalam pikiran saya. Mohon maaf karena saya menghabiskan waktu Anda untuk membaca tulisan yang mungkin tidak ada gunanya buat Anda. Namun, inilah salah satu fungsi blog bagi saya: menumpahkan pikiran saya untuk sedikit meringankan beban beratnya :)

Jadi, lanjut atau pensiun blogging? Tulisan ini mungkin saja menjadi tulisan saya yang terakhir di blog, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu tentang apa yang akan terjadi masa yang akan datang.

Bayu Fajar Pratama signing out!