26 October 2017

Teka-teki #017 - Mobil Berdarah

Rozi dan istrinya sedang dalam perjalanan dengan mengendarai mobil. Di tengah perjalanan, mobilnya mogok.


"Sial! Bensinnya habis! Jalan ini adalah jalan yang sepi. Mau minta tolong sama siapa? Oh iya, seingatku ada pom bensin yang jaraknya 1 km dari sini. Jalan aja deh kesana," gumam Rozi.

Rozi pun meninggalkan istrinya di dalam mobil. Karena ingin istrinya aman, Rozi menutup semua jendela mobil dan mengunci semua pintunya rapat-rapat. Setelah semuanya sudah aman, Rozi pergi berjalan kaki menuju pom bensin.

Beberapa menit kemudian, Rozi kembali dengan membawa bensin. Namun, saat Rozi membuka pintu mobil, Rozi melihat istrinya sudah bersimbah darah. Selain itu, ada seseorang tak dikenal di dalam mobil, padahal pintu selain yang Rozi buka masih terkunci, tidak ada tanda-tanda kerusakan, dan tidak ada jendela yang pecah.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Catatan: semua tokoh, watak, dan kejadian di atas hanyalah rekayasa. Jika ada kesamaan dengan kejadian yang asli, saya mohon maaf karena saya tidak berniat untuk menulis ulang kejadian tersebut.

SOLUSI 
Istri Rozi sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan. Sebenarnya Rozi dan istrinya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Akan tetapi, mobil mereka mogok di tengah jalan. Istrinya pun melahirkan di dalam mobil sehingga istrinya tampak bersimbah darah, dan seseorang tak dikenal di dalam mobil itu adalah anaknya yang baru lahir.

19 October 2017

Teka-teki #016 - Merindukan Hujan


Seorang lelaki tinggal di lantai 50 pada sebuah apartemen yang memiliki sebuah lift. Setiap berangkat kerja lelaki tersebut menggunakan lift untuk turun dari lantai 50 ke lantai dasar. Namun, setiap pulang kerja, ia naik lift hingga lantai 25, kemudian melanjutkan sisa perjalanannya dengan menaiki tangga hingga lantai 50. Tetapi, jika hari itu hujan, ia akan naik lift langsung ke lantai 50 saat pulang kerja.

Loh? Mengapa bisa seperti itu?

SOLUSI 
Lelaki ini bertubuh pendek, sehingga ia kesulitan untuk menjangkau tombol lantai 50 yang ada di lift saat ingin naik ke kamar apartemennya. Tombol lantai 50 tentu berada di bagian atas. Karena tubuhnya itu, ia hanya bisa menjangkau tombol lantai 25 dan melanjutkan perjalanan naiknya dengan menggunakan tangga. Tidak ada masalah untuk turun lift, karena tombol lantai dasar berada di bagian bawah.

Kenapa bisa naik lift langsung ke lantai 50 jika hari hujan? Ya, ia membawa payung jika hari hujan, sehingga ia bisa menjangkau tombol lantai 50 di lift dengan menggunakan payung yang dibawanya.

15 October 2017

Rumah Sakit Menolak Pasien Lagi?

Sepertinya masih segar dalam ingatan kita tentang kasus seorang anak bernama Debora yang akhirnya meninggal dikarenakan rumah sakit tempat ia dirawat “menolak” untuk memberikan pelayanan ruang rawat intensif karena orang tuanya tidak memiliki biaya untuk membayar uang muka. Kasus ini berakhir dengan perombakan manajemen rumah sakit tersebut sehingga diharapkan manajemen rumah sakit yang baru dapat mengikuti aturan manajemen sesuai dengan Undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.


Belum lama ini, video dan berita tentang rumah sakit menolak pasien kembali menjadi viral. Dalam kasus kali ini diberitakan seorang wanita ditolak oleh sebuah rumah sakit, yaitu RS Ariya Medika, Tangerang, Banten, sehingga wanita tersebut meninggal di dalam mobil. Kemudian, sekelompok anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bernama “KPK” datang melabrak dokter yang ada di rumah sakit tersebut dan meminta dokter untuk membuat surat pernyataan yang ditandatangani di atas materai.


Tanggapan cepat diberikan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) melalui akun twitter-nya dengan melayangkan pernyataan protes keras atas tindakan persekusi terhadap tenaga kesehatan saat bertugas.


Persekusi merupakan istilah yang baru bagi saya sehingga saya mencari tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan persekusi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Maksud pemburuan tersebut bukanlah memburu seperti seorang pemburu yang memburu hewan buruannya *halah kebanyakan kata “buru” dalam kalimat ini -_- Jika dijelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti, yang dimaksud dengan persekusi adalah perlakuan buruk atau intimidasi yang dilakukan oleh seseorang atau sebuah kelompok terhadap seseorang atau kelompok lainnya.

Tanggapan saya terhadap hal ini adalah saya tidak bisa menyalahkan pihak mana pun, karena saya tidak berada di tempat kejadian perkara saat itu sehingga saya tidak mengetahui dengan pasti bagaimana cerita dan rangkaian kronologi yang sebenarnya.

Seperti yang sudah kita ketahui, banyak oknum media yang menambahkan bumbu-bumbu opini ke dalam sebuah berita sehingga seringkali menggiring masyarakat ke arah persepsi yang salah. Tujuannya adalah menarik perhatian pembaca, mendapatkan rating yang tinggi, atau memang ingin menggiring pembaca ke suatu persepsi yang mereka inginkan. Oleh karena itu, saya masih bertanya-tanya dalam diri saya sendiri: apa penyakit yang diderita oleh pasien? Apa penyebab pasien itu meninggal? Apakah benar rumah sakit tersebut menolak pasien? Apakah benar tidak ada penanganan apa pun yang dilakukan di rumah sakit tersebut sehingga akhirnya pasien meninggal di mobil?

Setelah melakukan penelusuran dari berbagai sumber yang beredar di internet, inilah rangkaian kronologi yang saya susun sendiri dan saya rasa paling masuk akal:

Seorang wanita awalnya dibawa berobat ke klinik setelah mengalami penurunan kesadaran. Karena keterbatasan kemampuan untuk menangani pasien, pasien dirujuk ke Rumah Sakit A (RS A) *bukan nama sebenarnya* RS A mengatakan kondisi pasien sudah buruk dan pasien tidak mampu ditangani di RS A sehingga menyarankan agar pasien dirujuk ke RS yang lebih besar. Saat dalam perjalanan mencari rumah sakit yang lebih besar, keluarga pasien melihat RS Ariya Medika dan singgah ke sana. RS Ariya Medika ini selevel atau satu tipe dengan RS A. RS Ariya Medika melakukan pemeriksaan dan penanganan awal, kemudian melakukan konfirmasi ke RS A: apakah benar pasien tersebut dirujuk ke RS Ariya Medika, padahal kedua RS ini selevel dan seharusnya dirujuk ke RS yang lebih besar. RS Ariya Medika juga mengatakan bahwa pasien sedang dalam kondisi yang buruk dan tidak mampu ditangani di RS Ariya Medika sehingga disarankan agar pasien dirujuk ke RS yang lebih besar dan mampu, yaitu RS B *juga bukan nama sebenarnya* Keluarga pasien setuju dan telah menandatangani persetujuan. Saat dalam perjalanan ke RS B, mobil keluarga pasien mogok. Anggota LSM melihat mobil yang mogok tersebut, kemudian menawarkan bantuan untuk diantarkan ke RS B. Sekitar satu jam kemudian, pasien serta keluarganya dan anggota LSM kembali ke RS Ariya Medika. Anggota LSM tersebut mengatakan bahwa kondisi pasien semakin memburuk. Setelah dilakukan pemeriksaan kembali di RS Ariya Medika diketahui bahwa pasien sudah meninggal. Kemudian anggota LSM tersebut melabrak dokter yang sedang bertugas di RS Ariya Medika, seperti yang ditunjukkan dalam video di atas tadi.


Screenshot rangkaian kronologi seorang pasien meninggal di RS Ariya Medika

Mari kita tinjau kasus di atas dari tiga aspek, yaitu rumah sakit serta tenaga kesehatan yang bertugas, pasien serta keluarganya, dan anggota LSM yang melabrak.

Aspek pertama adalah rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bertugas di sana. Yang bertugas di sebuah rumah sakit bukan hanya dokter. Ada juga tenaga kesehatan lainnya, seperti perawat, bidan, apoteker, bahkan juga tenaga non-kesehatan, seperti petugas bagian informasi, pendaftaran, kasir, dan lain-lain. Satu hal yang perlu diingat adalah tidak akan ada rumah sakit, klinik, atau tenaga kesehatan yang menolak pasien, karena memberikan penanganan kepada pasien adalah tugasnya. Seorang dokter sebelum menjalankan profesinya telah disumpah di bawah kitab suci untuk senantiasa mengutamakan kesehatan penderita dan membaktikan hidupnya guna kepentingan perikemanusiaan. Begitu juga dengan profesi kesehatan lainnya yang juga telah mengikrarkan sumpah atau janji profesinya. Namun, tidak selamanya upaya penanganan dan terapi yang diberikan akan memberikan kesembuhan paripurna, karena yang memberikan kesembuhan dan nikmat kesehatan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Seorang tenaga kesehatan akan selalu berupaya sekuat tenaga mengutamakan kesehatan pasiennya.

Lalu, bagaimana dengan berita-berita rumah sakit menolak pasien yang telah beredar sejak dahulu? Tidak perlu jauh-jauh, bagaimana menjelaskan kasus Debora yang ditolak untuk mendapatkan ruang perawatan intensif? Jika itu pertanyaannya, saya akan bertanya balik:

Kalau sebuah RS tidak mampu menangani pasien karena berbagai keterbatasan, misalnya tidak ada alat pemeriksaan yang dibutuhkan, tidak ada dokter spesialis yang mampu menangani penyakitnya, atau ada keterbatasan lainnya, sehingga RS tidak bisa melakukan penanganan apa pun selain penanganan sementara, apakah pasien mau dibiarkan begitu saja tanpa ditangani? Memang ada beberapa kasus yang sangat membutuhkan alat pemeriksaan yang canggih untuk menegakkan diagnosis penyakitnya, seperti stroke atau cedera kepala berat yang membutuhkan CT scan. Ada juga kasus yang membutuhkan dokter yang lebih ahli, seperti kasus-kasus bedah yang tidak jarang membutuhkan tindakan segera yang harus dilakukan oleh seorang dokter spesialis bedah. Pilihan yang bisa dilakukan oleh RS dengan keterbatasan tersebut adalah merujuk pasien ke RS yang lebih besar dengan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan ketersediaan dokter spesialis yang cukup.

Kalau ruangan rawat inap di sebuah RS sudah penuh, mau ditempatkan dimana lagi jika ada pasien yang datang? Di Instalasi Gawat Darurat (IGD)? IGD bukanlah ruang rawat inap. IGD adalah tempat masuknya pasien yang sedang dalam keadaan gawat dan darurat. Yang dimaksud dengan keadaan gawat dan darurat adalah keadaan dimana pasien yang sedang terancam nyawanya dan membutuhkan penanganan yang cepat. Jika sudah teratasi kondisi gawat-daruratnya, pasien harus minggat dari IGD. Pasien boleh pulang jika keluhannya sudah membaik dan memungkinkan untuk pulang. Jika pasien masih membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien akan dibawa ke ruangan rawat inap. Jika ada pasien yang sudah teratasi kondisi gawat-daruratnya dan kemudian ingin menginap di IGD, berarti ia telah merenggut hak atau bahkan nyawa pasien gawat-darurat lain yang mungkin saja akan datang. Langkah yang bisa dilakukan oleh RS jika ruang rawat inapnya sedang penuh adalah merujuk pasien ke RS yang masih memiliki ruang rawat inap kosong. Bukan menolak pasien kan namanya?

Jika melihat penjelasan kedua paragraf di atas, persoalannya berkutat di seputar manajemen rumah sakit (ketersediaan alat, tenaga ahli, ruang rawat inap, dan kebijakan pembayaran uang muka), bukan penolakan secara langsung dari tenaga kesehatan yang tidak ingin merawat pasiennya. Urusan manajemen bukanlah wewenang dokter. Dokter di sebuah rumah sakit sama halnya dengan karyawan di sebuah perusahaan. Jadi, jangan heran jika ada dokter atau tenaga kesehatan lainnya yang berkoar-koar tidak ingin disalahkan dan dituntut persoalan manajemen rumah sakit, karena memang bukan salah mereka.

Aspek kedua adalah pasien dan keluarganya. Saya tidak menemukan informasi yang menjelaskan tentang usia, jenis penyakit, dan penyebab kematian pasien. Menurut saya, kondisi pasien memang sudah sangat buruk sejak ditangani di klinik dimana pasien pertama kali mendapatkan perawatan. Jika dilihat dari video dan screenshot kronologi cerita yang sudah terlampir di atas, keluarga pasien tidak lagi mempermasalahkan hal ini. Keluarga pasien sudah ikhlas dengan kehilangan yang mereka alami. Namun, yang memaksakan perkara ini adalah anggota LSM dengan nama “KPK” itu. Bahkan, keluarga menyesal meminta bantuan LSM tersebut jika ujung-ujungnya heboh seperti ini. Saya rasa sudah sangat jelas tentang pembahasan aspek pasien dan keluarganya ini. Mari kita masuk ke pembahasan aspek selanjutnya.

Aspek ketiga adalah anggota LSM yang mengatasnamakan diri mereka dengan “KPK”. Apakah KPK yang dimaksud ini adalah Komisi Pemberantasan Korupsi? Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyampaikan bahwa mereka tidak pernah mengangkat maupun menunjuk secara resmi sebuah LSM sebagai perpanjangan tangan mereka. Jadi, KPK yang membuat heboh dalam kasus ini sebenarnya siapa? Entahlah -_-


Anggota LSM tersebut dengan gagahnya *tapi keroyokan* melabrak dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ada di RS Ariya Medika. Anggota LSM tersebut meminta dokter membuat surat pernyataan yang ditandatangani di atas materai. Untuk apa? Entahlah. Sebenarnya saya heran, apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Mengapa anggota LSM tersebut datang dan langsung membuat kehebohan begitu saja? Tidak bisakah dibicarakan terlebih dahulu dengan baik-baik, kemudian sama-sama membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan setelahnya?

Syukur alhamdulillah anggota LSM yang melabrak tersebut sudah meminta maaf. Ya, walaupun minta maaf setelah polisi datang untuk meminta keterangan. Bukankah ini berarti mereka mengakui bahwa apa yang mereka lakukan itu salah? Bagus kalau begitu :D

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kasus ini. Mari kita tunggu saja berita selanjutnya, terutama tentang protes keras yang dilayangkan oleh PB IDI dan permintaan perlindungan terhadap tenaga kesehatan. Mohon maaf sebelumnya, bukannya para tenaga kesehatan ingin kebal terhadap hukum, akan tetapi salahkah jika tenaga kesehatan meminta perlindungan jika diintimidasi saat tidak bersalah, saat sedang bertugas mengutamakan kesehatan pasiennya?

Sekian dan terima kasih :)

12 October 2017

Teka-teki #015 - Lupa Hari di Tengah Hutan


Rambo sedang berjalan-jalan di hutan. Di tengah perjalanan, dia lupa hari ini hari apa. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Singa dan Unicorn. Untungnya, Singa dan Unicorn di hutan ini dapat berbicara seperti manusia. Sebelumnya, Rambo tahu bahwa sang Singa selalu berbohong pada hari Senin, Selasa, dan Rabu. Rambo juga tahu bahwa Unicorn selalu berbohong pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Rambo bertanya pada sang Singa, "hari ini hari apa, ya?" Dan Singa itu menjawab, "kemarin adalah hari berbohong saya." Rambo masih belum dapat membuat kesimpulan dari jawaban itu. Jadi, Rambo pun menanyakan hal yang sama pada Unicorn. Unicorn menjawab, "kemarin juga adalah hari berbohong saya."

Jadi, hari ini hari apa, ya?

Catatan: semua tokoh, watak, dan kejadian di atas hanyalah rekayasa. Jika ada kesamaan dengan kejadian yang asli, saya mohon maaf karena saya tidak berniat untuk menulis ulang kejadian tersebut.

SOLUSI 
Asumsikan hari ini adalah hari Senin sehingga kemarin adalah hari Minggu. Singa dan Unicorn mengatakan bahwa kemarin adalah harinya berbohong, tetapi tidak terdapat keterangan apakah Singa dan Unicorn berbohong pada hari Minggu. Jadi, hari ini bukan hari Senin.

Asumsikan hari ini adalah hari Selasa sehingga kemarin adalah hari Senin. Singa mengatakan kemarin adalah harinya berbohong, dan itu memang benar. Singa berbohong pada hari Senin, Selasa, dan Rabu. Tidak mungkin Singa mengatakan hal yang benar pada hari berbohongnya. Jadi, hari ini bukan hari Selasa. Alasan yang sama digunakan untuk asumsi hari ini adalah hari Rabu.

Asumsikan hari ini adalah hari Jumat sehingga kemarin adalah hari Kamis. Unicorn mengatakan kemarin adalah harinya berbohong, dan itu memang benar. Unicorn berbohong pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Tidak mungkin Unicorn mengatakan hal yang benar pada hari dimana ia harus berbohong. Jadi, hari ini bukan hari Jumat. Alasan yang sama digunakan untuk asumsi hari ini adalah hari Sabtu.

Kita tidak dapat mengasumsikan hari ini adalah hari Minggu karena tidak ada keterangan yang menjelaskan apakah Singa dan Unicorn berkata jujur atau bohong pada hari Minggu. Jadi, hari ini juga bukan hari Minggu.

Asumsikan hari ini adalah hari Kamis sehingga kemarin adalah hari Rabu. Pada hari Kamis ini, Singa berkata jujur dan Unicorn berkata bohong. Singa berkata bahwa kemarin adalah hari berbohongnya, dan itu memang benar. Tidak ada kontradiksi karena memang Singa tidak berkata bohong pada hari Kamis. Unicorn mengatakan kemarin adalah hari berbohongnya, padahal hari Rabu bukanlah hari berbohongnya. Jadi, Unicorn telah berbohong hari ini, dan hari Kamis memang hari dimana Unicorn harus berbohong. Tidak ada kontradiksi sejauh ini sehingga asumsi awal kita benar.

Hari ini adalah hari Kamis.

05 October 2017

Teka-teki #014 - Tiga Lampu dan Tiga Saklar

Alkisah, Petruk ditantang oleh seorang teman di tempat kerjanya. Tempat kerjanya itu adalah sebuah gedung yang bertingkat 7 lantai. Petruk dan temannya tersebut sekarang berada di lantai dasar. Teman tersebut menjelaskan bahwa di lantai dasar ini terdapat 3 buah saklar yang terhubung dengan 3 buah lampu yang ada di lantai 7. Jika sebuah saklar disambungkan, maka tepat sebuah lampu di lantai 7 juga akan menyala.


Tantangan untuk Petruk sederhana. Saklar di lantai dasar sudah diberi label saklar A - B - C, dan lampu di lantai 7 diberi tanda I - II - III. Petruk diminta untuk menentukan tiap-tiap saklar terhubung dengan lampu lantai 7 yang mana. Di gedung ini tidak terdapat lift. Setelah Petruk bereksperimen dengan saklar yang ada di lantai dasar, Petruk dan temannya akan naik ke lantai 7 dan Petruk sudah harus bisa menunjukkan kepada temannya masing-masing lampu terhubung dengan saklar yang mana.

Setelah sampai di lantai 7, Petruk tidak boleh turun kembali. Selain karena capek, disinilah letak tantangannya. Petruk juga hanya diberi waktu selama 10 menit untuk bereksperimen di lantai dasar, dan temannya selalu menemani dan mengawasi apa pun yang Petruk lakukan.

Petruk bukanlah orang yang ahli dalam memecahkan teka-teki sehingga ia meminta bantuan kepada para pembaca sekalian untuk menyelesaikan tantangan dari temannya. Bagaimanakah caranya agar Petruk dapat mengetahui pasangan yang tepat dari masing-masing lampu dan saklar?

Catatan: semua tokoh, watak, dan kejadian di atas hanyalah rekayasa. Jika ada kesamaan dengan kejadian yang asli, saya mohon maaf karena saya tidak berniat untuk menulis ulang kejadian tersebut.

SOLUSI 
Ketika Petruk berada di lantai bawah, lakukan hal berikut ini:
  • Nyalakan saklar A, dan biarkan tetap menyala.
  • Nyalakan saklar B, dan matikan saklar setelah 10 menit.
  • Jangan lakukan apapun pada saklar C.
Setelah 10 menit, ajaklah teman Petruk untuk naik ke lantai 7, and it's the show time! Sesampainya di lantai 7, Petruk dan temannya akan mendapati 3 buah lampu dengan keadaan sebagai berikut:
  • Sebuah lampu menyala. Ini adalah lampu yang terhubung dengan saklar A.
  • Sebuah lampu padam, tetapi hangat saat dipegang. Ini adalah lampu yang terhubung dengan saklar B.
  • Sebuah lampu padam, dan tidak hangat saat dipegang. Ini adalah lampu yang terhubung dengan saklar C.
Tantangan selesai dengan sempurna (^_^)

04 October 2017

Menunggu Jam Karet

Suatu ketika beredarlah pengumuman tentang sebuah acara yang isinya:
Acara dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB di lapangan terbuka.
Para peserta harap datang tepat waktu.
Pagi itu suasana kota Pekanbaru sedang sejuk karena diguyur hujan gerimis yang cukup awet sejak dini hari. Saya sebenarnya ragu apakah acara dapat dilaksanakan tepat waktu, mengingat acara dilaksanakan di lapangan terbuka dan cuaca hujan gerimis menyelimuti Pekanbaru pagi ini. Namun, sebagai anak baik-baik yang terlalu patuh dengan aturan, sampailah saya di tempat pelaksanaan acara tepat pada pukul 09.00 WIB *ini baru namanya tepat waktu :D

Apa yang saya temukan? Seperti yang saya duga sebelumnya, acara belum dimulai saat saya tiba di tempat pelaksanaan acara. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Panitia acara tampak belum siap untuk menggelar acara tersebut. Saya bisa melihat kursi-kursi peserta yang belum rampung disusun sehingga beberapa peserta masih berdiri. Saya juga melihat sound system yang belum terpasang apalagi dinyalakan. Peserta yang sudah hadir pun baru sedikit, masih kurang dari setengah total peserta. Mungkin mereka memiliki dugaan yang sama seperti saya dan sengaja untuk datang terlambat.

Saya berulang-ulang melirik ke arah jam tangan yang saya kenakan seraya mengeluh, “kapan mulainya nih? Kenapa belum mulai-mulai juga?” Tanpa ada pemberitahuan apa pun, panitia tampak mondar-mandir di atas panggung dan para peserta yang telah hadir tidak dihiraukan sama sekali. Saya dan para peserta yang lain merasa “digantung” oleh panitia. Kami menunggu di tengah lapangan terbuka tanpa kejelasan mengapa acara belum juga dimulai.

Tiba-tiba terdengarlah suara seorang bapak-bapak dari speaker yang telah digelar di lapangan terbuka. Saat itu juga saya kembali melihat jam tangan, “jam 11 ya? Akhirnya mulai juga!”

Laki-laki itu menyapa kami dengan salam, “Selamat pagi, para peserta semuanya.”

Saya menjawab, “Selamat siang, pak!”

Laki-laki itu melanjutkan,
“Terima kasih karena sudah bersedia menunggu.
Kita sama-sama menunggu dari tadi. Oleh karena itu, mari kita mulai.”
Kita sama-sama menunggu? Bukankah para peserta yang menunggu? Bukankah kami yang menunggu selesainya persiapan dari bapak-ibu panitia sekalian?

* * *

Selamat datang di Indonesia yang sudah terbiasa dengan jam karet :)


Menurut saya, kejadian di atas bukanlah cerita baru bagi kita. Mungkin kita semua pernah mengalami hal tersebut. Mungkin kita semua pernah melihat sebuah acara atau rapat yang dimulai tidak tepat waktu, atau bahkan sering. Karena terlalu sering, acara yang selalu molor sudah tertanam di dalam pikiran kita. Misalnya, saat ada pengumuman sebuah rapat yang dimulai pada pukul 09.00 pagi, hampir dapat dipastikan ada tanggapan “ah, nggak mungkin jam 09.00 mulainya. Paling cepat jam 09.30 baru mulai tuh.” Walhasil, dengan mindset seperti itu, banyak orang-orang yang datang terlambat. Banyak orang-orang yang baru datang di atas jam 09.00. Orang-orang yang sudah datang tepat waktu tidak bisa memulai rapat karena jumlahnya yang sedikit sehingga terpaksa menunggu mereka yang membuang-buang waktu. Betul?

Menunggu adalah hal yang menjemukan. Tiada hal yang lebih sia-sia selain menunggu tanpa kejelasan. Saya yakin para pembaca sekalian sudah pernah menjadi korban dari pembunuh waktu yang satu ini. Saat kita sudah berusaha datang tepat waktu bahkan datang lebih awal untuk menghadiri suatu acara atau rapat, namun kita masih harus menunggu seluruh peserta lengkap atau menunggu persiapan selesai, disitu kadang saya merasa sedih *halah -_-

Penghargaan kita berikan kepada mereka yang datangnya terlambat. Acara atau rapat belum bisa dimulai jika mereka belum datang. Mereka seolah-olah menjadi “kunci” dari acara tersebut. Padahal sebenarnya mereka adalah penghambat dan musuh utama dari orang-orang yang sudah berusaha tepat waktu. Mereka telah menyia-nyiakan waktunya sendiri dan waktu milik orang lain.

Saya berbicara seperti sangat membenci orang-orang yang tidak menghargai waktunya. Namun, bukan berarti saya tidak pernah datang terlambat. Saya rasa semua orang pernah menjadi orang yang terlambat. Tetapi, pengalaman terlambat yang saya alami membuat saya malu. Saat itu saya menjadi pemimpin sebuah rapat dan semua anggota yang lain sudah hadir, kecuali diri saya sendiri. Rapat langsung dimulai setelah saya datang. Sejak saat itu, saya selalu berusaha menghargai waktu.

Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang rapat di sebuah instansi pemerintah. Salah seorang kepala bagian di instansi tersebut merupakan orang yang sangat tepat waktu. Hal tersebut juga ia terapkan dalam melaksanakan rapat bagian. Jika ia bilang rapat bagian akan dilaksanakan pukul 10.00 pagi, tidak peduli berapa jumlah anggotanya yang hadir, rapat akan tetap dimulai tepat pukul 10.00 pagi. Jika ada anggota yang datang terlambat, ia akan disambut oleh kepala bagian itu dengan ucapan, “silahkan duduk. Maaf ya kami mulai rapatnya terlalu cepat.” Jika saya menjadi anggota yang datang terlambat itu, mungkin saya akan menjawab, “eh nggak apa-apa pak. Silahkan mulai rapatnya. Saya pergi dulu ya pak.” Malu luar biasa itu hahaha :))

Jika mindset jam karet ini terus kita pelihara di Indonesia, sepertinya kita akan terus tertinggal dari negara-negara lain yang sudah maju. Saat negara lain sudah menjadi negara maju, kita masih saja menjadi negara berkembang. Entah sampai kapan negara ini akan berkembang tidak tentu arah. Mari kita mulai menghargai waktu. Hal-hal kecil yang dimulai dari diri kita sendiri pada akhirnya akan berubah menjadi besar dan dapat mempengaruhi orang lain. Jika Anda pernah merasakan pahitnya menunggu tanpa kejelasan, jangan biarkan orang lain mengalami rasa pahit yang sama karena diri Anda. Saya ingat sebuah kata-kata mutiara tentang waktu yang isinya:
Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 tahun, tanyakan kepada siswa yang tinggal kelas.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 bulan, tanyakan kepada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 minggu, tanyakan kepada redaksi dan editor majalah mingguan.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 hari, tanyakan kepada orang yang bekerja dengan gaji harian.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 jam, tanyakan kepada seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 menit, tanyakan kepada orang yang ketinggalan kereta.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 detik, tanyakan kepada atlet lari 100 meter.
Sekian dan terima kasih :)