Akhir Masa Pengangguran

Selamat pagi/siang/sore/malam para pembaca sekalian.
*silahkan baca yang sesuai dengan waktu Anda membaca tulisan ini :D

Rasanya sudah sangat lama saya tidak menulis. Sungguh saya kecewa dengan diri saya yang kehilangan minat untuk menulis beberapa minggu belakangan ini, mulai dari target membuat 1 tulisan per hari, kemudian turun menjadi 3 tulisan per minggu, turun lagi menjadi 2 tulisan per minggu, dan akhirnya saya hanya membuat 1 tulisan per minggu, yaitu soal teka-teki yang saya posting pada hari Kamis tiap minggunya. Pada bulan Oktober lalu, saya hanya memasukkan 6 buah tulisan ke dalam blog ini. Sungguh sangat jauh dari target yang sudah saya rencanakan!

Yah, memang begitulah yang namanya mood. Suasana perasaan memang cenderung naik-turun. Contohnya adalah diri saya saat ini. Ada kalanya saya merasa sangat bahagia dan semangat dalam mengerjakan sesuatu, seolah-olah ingin meraih hal-hal yang besar dan ingin mengerjakan semuanya. Impian ingin memiliki blog yang aktif dan dibaca banyak orang, impian untuk memiliki mobil mewah, impian untuk jalan-jalan keliling dunia, dan impian-impian besar lainnya muncul saat mood sedang baik. Namun, tidak jarang mood menjadi turun saat berada dalam proses untuk menggapai impian besar itu, terutama ketika hasil yang memuaskan tidak kunjung didapat. Padahal saya sadar bahwa tidak ada keberhasilan yang bersifat instan. Padahal saya sadar bahwa usaha yang saya lakukan belum maksimal dan belum sekeras yang dilakukan oleh orang-orang sukses di luar sana. Ya, hal tersulit bukanlah bagaimana cara kita memulai sesuatu. Bertahan dan konsisten adalah hal yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan memulai suatu pekerjaan.


Yang membuat saya lebih kecewa lagi adalah saya berstatus sebagai pengangguran sejak bulan Juli yang lalu dan sebenarnya memiliki banyak waktu untuk menulis. Saya menyesal karena terlalu menekuni rutinitas sebagai seorang pengangguran sehingga saya menganggap tiap detik yang berlalu adalah waktu luang dan setiap waktu luang dihabiskan dengan rutinitas dalam lingkaran setan pengangguran (tidur - bangun - makan - tidur lagi - bangun lagi - makan lagi - kembali ke tidur). Saya merasa diri saya adalah orang yang paling malas di dunia. Jika benar-benar ada lomba untuk mengadu orang-orang malas di dunia ini, pasti bukan saya yang memenangkan lomba tersebut, karena untuk ikut lomba itu pun saya malas. Kurang malas apalagi coba? Haha :D

Namun, masa pengangguran itu akan berakhir tidak lama lagi. Pasalnya adalah mulai bulan November ini saya akan mengikuti Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI). Jika Anda mengikuti berita-berita viral yang beredar di berbagai media beberapa bulan belakangan ini, maka seharusnya Anda sudah pernah membaca atau mengetahui istilah dokter internsip, sebab berita tentang dokter internsip yang “ditampar” oleh anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) di Bengkulu dan tindakan kekerasan yang diterima oleh dokter internsip dari keluarga pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sampang, Jawa Timur, menjadi viral dalam beberapa bulan terakhir.

Definisi dari PIDI adalah program pemandirian dan pemahiran kompetensi dokter yang baru lulus sehingga menjadi lebih siap dalam menghadapi dunia kerja profesi dokter. Istilah sederhananya adalah program magang untuk dokter yang baru lulus. PIDI merupakan program yang wajib diikuti karena menyelesaikan program internsip sudah menjadi syarat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) dokter. Peserta PIDI akan menjalani tugas sebagai dokter internsip selama 1 tahun dengan rincian 8 bulan bekerja di rumah sakit dan 4 bulan bekerja di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat).


Perlu ditekankan bahwa bukan berarti dokter internsip belum memiliki kompetensi sebagai seorang dokter. Semua mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh proses pendidikannya di Fakultas Kedokteran (FK) pasti memiliki kompetensi sebagai seorang dokter, karena seluruh mahasiswa FK harus lulus dari Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) agar bisa diambil sumpahnya sebagai dokter dan menjalankan profesi kedokteran. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang signifikan antara proses pembelajaran seorang mahasiswa di FK dengan dunia kerja sebagai dokter.

Saat masih menjalani pendidikan di FK, seorang mahasiswa dipanggil dengan sebutan dokter muda atau co-ass. Seorang dokter muda tidak memegang tanggung jawab penuh terhadap pasien. Tanggung jawab penuh dipegang oleh dokter spesialis atau dokter umum yang bekerja di rumah sakit dimana dokter muda tersebut belajar. Akibatnya, dokter muda memiliki banyak keterbatasan dalam menangani pasien. Seorang dokter muda tidak bisa memberikan resep pengobatan atau tatalaksana secara langsung kepada pasien. Selain itu, dokter muda “masih boleh” salah, karena dirinya masih belajar. Dokter spesialis atau dokter umum di rumah sakit pendidikan juga bertanggung jawab membenarkan kesalahan seorang dokter muda yang masih belajar.

Semua hal tersebut berubah setelah dokter muda telah menjadi seorang dokter. Segala hal yang berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Tidak jarang seorang dokter dihadapkan dengan keadaan dimana resep pengobatan darinya menjadi penentu hidup atau meninggalnya seorang pasien sehingga seringkali dokter dituntut “tidak boleh” salah dalam menangani pasien. Karena perbedaan tanggung jawab yang cukup signifikan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merancang program pemahiran dan pemandirian kompetensi dokter baru yang disebut dengan program internsip.

Sekian penjelasan singkat dari saya tentang dokter internsip haha :D

Karena masa pengangguran saya akan berakhir sebentar lagi, saya kembali khawatir dengan blog ini. Mohon maaf jika dalam beberapa bulan kemudian blog ini menjadi sepi karena saya akan lebih sibuk dengan urusan internsip. Mohon maaf juga jika saya tidak mengunjungi dan meramaikan blog-blog Anda sekalian. Tetapi, satu hal yang pasti: saya tidak akan berhenti menulis. Saya akan tetap berusaha meng-update blog ini dan memasukkan tulisan-tulisan baru.

Sekian dan terima kasih.

Comments

  1. semoga walaupun udah gak nganggur lagi, blog ini tetap jalaan. aamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Allah. Terima kasih banyak mas Salam :)

      Delete
  2. 👍👍👍, jd pengangguran itu pilihan bay

    ReplyDelete
  3. 👍👍👍, jd pengangguran itu pilihan bay

    ReplyDelete
  4. selamat bay! Internship berapa lama bay? aku kok sama ya, akhir akhir ini menikmati ngoding, lupa nulis wahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. baru baca setahun wkkwkw maap bay, di Pekanbaru atau dimana?

      Delete
  5. Wih, mantap mas bay semoga menjadi dokter yang ahli dan bermanfaat bagi masyarakat. Serta mengedukasi lewat tulisan di blog.

    Saran, ada sesi di blog ini pasien bertanya dr. Bayu menjawab :D

    ReplyDelete
  6. semangat semangat.. akan indah pada waktunya.
    saya dulu jg nganggur beberapa bulan. hehe

    yg penting tetep ngeblog yaa.. hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment