Rumah Sakit Menolak Pasien Lagi?

Sepertinya masih segar dalam ingatan kita tentang kasus seorang anak bernama Debora yang akhirnya meninggal dikarenakan rumah sakit tempat ia dirawat “menolak” untuk memberikan pelayanan ruang rawat intensif karena orang tuanya tidak memiliki biaya untuk membayar uang muka. Kasus ini berakhir dengan perombakan manajemen rumah sakit tersebut sehingga diharapkan manajemen rumah sakit yang baru dapat mengikuti aturan manajemen sesuai dengan Undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.


Belum lama ini, video dan berita tentang rumah sakit menolak pasien kembali menjadi viral. Dalam kasus kali ini diberitakan seorang wanita ditolak oleh sebuah rumah sakit, yaitu RS Ariya Medika, Tangerang, Banten, sehingga wanita tersebut meninggal di dalam mobil. Kemudian, sekelompok anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bernama “KPK” datang melabrak dokter yang ada di rumah sakit tersebut dan meminta dokter untuk membuat surat pernyataan yang ditandatangani di atas materai.


Tanggapan cepat diberikan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) melalui akun twitter-nya dengan melayangkan pernyataan protes keras atas tindakan persekusi terhadap tenaga kesehatan saat bertugas.


Persekusi merupakan istilah yang baru bagi saya sehingga saya mencari tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan persekusi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Maksud pemburuan tersebut bukanlah memburu seperti seorang pemburu yang memburu hewan buruannya *halah kebanyakan kata “buru” dalam kalimat ini -_- Jika dijelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti, yang dimaksud dengan persekusi adalah perlakuan buruk atau intimidasi yang dilakukan oleh seseorang atau sebuah kelompok terhadap seseorang atau kelompok lainnya.

Tanggapan saya terhadap hal ini adalah saya tidak bisa menyalahkan pihak mana pun, karena saya tidak berada di tempat kejadian perkara saat itu sehingga saya tidak mengetahui dengan pasti bagaimana cerita dan rangkaian kronologi yang sebenarnya.

Seperti yang sudah kita ketahui, banyak oknum media yang menambahkan bumbu-bumbu opini ke dalam sebuah berita sehingga seringkali menggiring masyarakat ke arah persepsi yang salah. Tujuannya adalah menarik perhatian pembaca, mendapatkan rating yang tinggi, atau memang ingin menggiring pembaca ke suatu persepsi yang mereka inginkan. Oleh karena itu, saya masih bertanya-tanya dalam diri saya sendiri: apa penyakit yang diderita oleh pasien? Apa penyebab pasien itu meninggal? Apakah benar rumah sakit tersebut menolak pasien? Apakah benar tidak ada penanganan apa pun yang dilakukan di rumah sakit tersebut sehingga akhirnya pasien meninggal di mobil?

Setelah melakukan penelusuran dari berbagai sumber yang beredar di internet, inilah rangkaian kronologi yang saya susun sendiri dan saya rasa paling masuk akal:

Seorang wanita awalnya dibawa berobat ke klinik setelah mengalami penurunan kesadaran. Karena keterbatasan kemampuan untuk menangani pasien, pasien dirujuk ke Rumah Sakit A (RS A) *bukan nama sebenarnya* RS A mengatakan kondisi pasien sudah buruk dan pasien tidak mampu ditangani di RS A sehingga menyarankan agar pasien dirujuk ke RS yang lebih besar. Saat dalam perjalanan mencari rumah sakit yang lebih besar, keluarga pasien melihat RS Ariya Medika dan singgah ke sana. RS Ariya Medika ini selevel atau satu tipe dengan RS A. RS Ariya Medika melakukan pemeriksaan dan penanganan awal, kemudian melakukan konfirmasi ke RS A: apakah benar pasien tersebut dirujuk ke RS Ariya Medika, padahal kedua RS ini selevel dan seharusnya dirujuk ke RS yang lebih besar. RS Ariya Medika juga mengatakan bahwa pasien sedang dalam kondisi yang buruk dan tidak mampu ditangani di RS Ariya Medika sehingga disarankan agar pasien dirujuk ke RS yang lebih besar dan mampu, yaitu RS B *juga bukan nama sebenarnya* Keluarga pasien setuju dan telah menandatangani persetujuan. Saat dalam perjalanan ke RS B, mobil keluarga pasien mogok. Anggota LSM melihat mobil yang mogok tersebut, kemudian menawarkan bantuan untuk diantarkan ke RS B. Sekitar satu jam kemudian, pasien serta keluarganya dan anggota LSM kembali ke RS Ariya Medika. Anggota LSM tersebut mengatakan bahwa kondisi pasien semakin memburuk. Setelah dilakukan pemeriksaan kembali di RS Ariya Medika diketahui bahwa pasien sudah meninggal. Kemudian anggota LSM tersebut melabrak dokter yang sedang bertugas di RS Ariya Medika, seperti yang ditunjukkan dalam video di atas tadi.

Screenshot rangkaian kronologi seorang pasien meninggal di RS Ariya Medika
Sumber: komentar di video Youtube

Mari kita tinjau kasus di atas dari tiga aspek, yaitu rumah sakit serta tenaga kesehatan yang bertugas, pasien serta keluarganya, dan anggota LSM yang melabrak.

Aspek pertama adalah rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bertugas di sana. Yang bertugas di sebuah rumah sakit bukan hanya dokter. Ada juga tenaga kesehatan lainnya, seperti perawat, bidan, apoteker, bahkan juga tenaga non-kesehatan, seperti petugas bagian informasi, pendaftaran, kasir, dan lain-lain. Satu hal yang perlu diingat adalah tidak akan ada rumah sakit, klinik, atau tenaga kesehatan yang menolak pasien, karena memberikan penanganan kepada pasien adalah tugasnya. Seorang dokter sebelum menjalankan profesinya telah disumpah di bawah kitab suci untuk senantiasa mengutamakan kesehatan penderita dan membaktikan hidupnya guna kepentingan perikemanusiaan. Begitu juga dengan profesi kesehatan lainnya yang juga telah mengikrarkan sumpah atau janji profesinya. Namun, tidak selamanya upaya penanganan dan terapi yang diberikan akan memberikan kesembuhan paripurna, karena yang memberikan kesembuhan dan nikmat kesehatan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Seorang tenaga kesehatan akan selalu berupaya sekuat tenaga mengutamakan kesehatan pasiennya.

Lalu, bagaimana dengan berita-berita rumah sakit menolak pasien yang telah beredar sejak dahulu? Tidak perlu jauh-jauh, bagaimana menjelaskan kasus Debora yang ditolak untuk mendapatkan ruang perawatan intensif? Jika itu pertanyaannya, saya akan bertanya balik:

Kalau sebuah RS tidak mampu menangani pasien karena berbagai keterbatasan, misalnya tidak ada alat pemeriksaan yang dibutuhkan, tidak ada dokter spesialis yang mampu menangani penyakitnya, atau ada keterbatasan lainnya, sehingga RS tidak bisa melakukan penanganan apa pun selain penanganan sementara, apakah pasien mau dibiarkan begitu saja tanpa ditangani? Memang ada beberapa kasus yang sangat membutuhkan alat pemeriksaan yang canggih untuk menegakkan diagnosis penyakitnya, seperti stroke atau cedera kepala berat yang membutuhkan CT scan. Ada juga kasus yang membutuhkan dokter yang lebih ahli, seperti kasus-kasus bedah yang tidak jarang membutuhkan tindakan segera yang harus dilakukan oleh seorang dokter spesialis bedah. Pilihan yang bisa dilakukan oleh RS dengan keterbatasan tersebut adalah merujuk pasien ke RS yang lebih besar dengan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan ketersediaan dokter spesialis yang cukup.

Kalau ruangan rawat inap di sebuah RS sudah penuh, mau ditempatkan dimana lagi jika ada pasien yang datang? Di Instalasi Gawat Darurat (IGD)? IGD bukanlah ruang rawat inap. IGD adalah tempat masuknya pasien yang sedang dalam keadaan gawat dan darurat. Yang dimaksud dengan keadaan gawat dan darurat adalah keadaan dimana pasien yang sedang terancam nyawanya dan membutuhkan penanganan yang cepat. Jika sudah teratasi kondisi gawat-daruratnya, pasien harus minggat dari IGD. Pasien boleh pulang jika keluhannya sudah membaik dan memungkinkan untuk pulang. Jika pasien masih membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien akan dibawa ke ruangan rawat inap. Jika ada pasien yang sudah teratasi kondisi gawat-daruratnya dan kemudian ingin menginap di IGD, berarti ia telah merenggut hak atau bahkan nyawa pasien gawat-darurat lain yang mungkin saja akan datang. Langkah yang bisa dilakukan oleh RS jika ruang rawat inapnya sedang penuh adalah merujuk pasien ke RS yang masih memiliki ruang rawat inap kosong. Bukan menolak pasien kan namanya?

Jika melihat penjelasan kedua paragraf di atas, persoalannya berkutat di seputar manajemen rumah sakit (ketersediaan alat, tenaga ahli, ruang rawat inap, dan kebijakan pembayaran uang muka), bukan penolakan secara langsung dari tenaga kesehatan yang tidak ingin merawat pasiennya. Urusan manajemen bukanlah wewenang dokter. Dokter di sebuah rumah sakit sama halnya dengan karyawan di sebuah perusahaan. Jadi, jangan heran jika ada dokter atau tenaga kesehatan lainnya yang berkoar-koar tidak ingin disalahkan dan dituntut persoalan manajemen rumah sakit, karena memang bukan salah mereka.

Aspek kedua adalah pasien dan keluarganya. Saya tidak menemukan informasi yang menjelaskan tentang usia, jenis penyakit, dan penyebab kematian pasien. Menurut saya, kondisi pasien memang sudah sangat buruk sejak ditangani di klinik dimana pasien pertama kali mendapatkan perawatan. Jika dilihat dari video dan screenshot kronologi cerita yang sudah terlampir di atas, keluarga pasien tidak lagi mempermasalahkan hal ini. Keluarga pasien sudah ikhlas dengan kehilangan yang mereka alami. Namun, yang memaksakan perkara ini adalah anggota LSM dengan nama “KPK” itu. Bahkan, keluarga menyesal meminta bantuan LSM tersebut jika ujung-ujungnya heboh seperti ini. Saya rasa sudah sangat jelas tentang pembahasan aspek pasien dan keluarganya ini. Mari kita masuk ke pembahasan aspek selanjutnya.

Aspek ketiga adalah anggota LSM yang mengatasnamakan diri mereka dengan “KPK”. Apakah KPK yang dimaksud ini adalah Komisi Pemberantasan Korupsi? Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyampaikan bahwa mereka tidak pernah mengangkat maupun menunjuk secara resmi sebuah LSM sebagai perpanjangan tangan mereka. Jadi, KPK yang membuat heboh dalam kasus ini sebenarnya siapa? Entahlah -_-


Anggota LSM tersebut dengan gagahnya *tapi keroyokan* melabrak dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ada di RS Ariya Medika. Anggota LSM tersebut meminta dokter membuat surat pernyataan yang ditandatangani di atas materai. Untuk apa? Entahlah. Sebenarnya saya heran, apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Mengapa anggota LSM tersebut datang dan langsung membuat kehebohan begitu saja? Tidak bisakah dibicarakan terlebih dahulu dengan baik-baik, kemudian sama-sama membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan setelahnya?

Syukur alhamdulillah anggota LSM yang melabrak tersebut sudah meminta maaf. Ya, walaupun minta maaf setelah polisi datang untuk meminta keterangan. Bukankah ini berarti mereka mengakui bahwa apa yang mereka lakukan itu salah? Bagus kalau begitu :D

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kasus ini. Mari kita tunggu saja berita selanjutnya, terutama tentang protes keras yang dilayangkan oleh PB IDI dan permintaan perlindungan terhadap tenaga kesehatan. Mohon maaf sebelumnya, bukannya para tenaga kesehatan ingin kebal terhadap hukum, akan tetapi salahkah jika tenaga kesehatan meminta perlindungan jika diintimidasi saat tidak bersalah, saat sedang bertugas mengutamakan kesehatan pasiennya?

Sekian dan terima kasih :)

Comments

  1. Iya. Paham mksdnya. Mengerti kenapa ariya medica "menolak" . Bukan tidak mau, tp krn kondisi pasien harusnya ditangani oleh RS yang alat2nya lbh lngkap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pengertiannya mbak hehe :D

      Delete
  2. Iya mungkin di tolaknya karena alatnya kurang memadai, dibelakang rumah saya juga ada RS tingkat kecamatan, jadi kalo ada pasien yang sekiran nya tidak mampu menangani atau entah kenapa slalu di rujuk ke RS yang lebih gede

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas. Dengan sistem BPJS dibuatlah sistem pelayanan kesehatan berjenjang, dari fasilitas kesehatan primer (Puskesmas / RS tipe D) sampai ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut, supaya nggak ada lagi masyarakat yang sakitnya batuk-batuk kurang dari satu hari, tetapi berobatnya pengen ke dokter spesialis :)

      Delete
  3. Alat tidak lengkap bukanlah disebut alasan, seorang dokter itu bukan tergantung dari alat, tapi dari jiwanya, jika memang benar seorang ingin menjadi dokter, seharusnya memiliki niat utk menolong dan menyelamatkan jiwa orang lebih besar dan lebih kuat, apa salahnya dicoba ditangani dulu, walaupun akhirnya nyawa orang tidak tertolong, setidaknya kita melihat ada usaha, urusan takdir itu kita pasrahkan kepada Allah, ya semoga semua dokter di Indo ga hanya gelar yang cuma dibuat bisnis aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurut saya pasti sudah dicoba untuk menyelamatkan sebisa dokternya. tapi bagaimana kalau alatnya memang tidak ada? bukankah kalau dipaksa untuk ditangani secara manual padahal kalkulasi yg sudah dilakukan tng medis terkait yg berpengalaman kondisi tdk memungkinkan untuk ditangani manual bagaimana? apa gak malah waktu yg bisa dialokasi untuk menuju RS lain dgn alat lebih lengkap kebuang dgn penanganan manual yg kemungkinannya sudah dikalkulasi tidak bisa.

      di dunia ini banyak sekali pekerjaan yg bs dikerjakan dgn manual tp memerlukan waktu yg jauh lebih lama jauh lbh sulit dst. sementara menyangkut nyawa manusia, waktu itu sangat penting untuk dikalkulasi seefektif mungkin.

      taruhlah untuk bidang lain. apa yg terjadi ketika alat berat merapat di pelabuhan sementara alat bongkar muatnya rusak/tdk ada. tdk mungkin kuli angkut biasa mampu memindahkan alat berat ke dermaga bukan? logikanya seperti itu. kemampuan manusia terbatas. dokter juga manusia biasa, bukan superman.

      Delete
    2. seandainya semua orang memiliki pemikiran yang sama seperti mbaknya, sepertinya dunia damai, komen saya diatas, saya berada di pihak orang awam yang lagi panik, hehe

      Delete
    3. Darimana mas Rival bisa menyimpulkan bahwa dokter tersebut tidak ada niat untuk menolong dan tidak mencoba untuk memberikan penanganan pertama? Saya sering melihat dokter yang bertugas di IGD, dan tidak ada yang mengabaikan pasien saat pasien datang, langsung diperiksa dan ditangani, minimal periksa tekanan darah.

      Saya sudah jelaskan di atas bahwa memang ada beberapa hal yang butuh alat pemeriksaan canggih untuk menegakkan diagnosis penyakit. Jika butuh penanganan segera dan sangat butuh alat pemeriksaan canggih, bukankah sebaiknya dirujuk ke RS yang punya alat pemeriksaannya?

      Ya, begitulah pandangan orang awam yang lagi panik, makanya para tenaga kesehatan sedang giat mencoba memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tugasnya :)

      Terima kasih atas bantuan pengertiannya mbak Ninda :D

      Delete
  4. Kita sebagai orang luar bisa memandang sesuatu dari segi opini saja. Karena faktanya bisa jadi pihak rs yang benar, atau pihak rs yang salah. Mungkin lsm mendengarkan opni dari salah satu pihak saja sehingga muncul perbebatan yang membuat dokter tersalahkan. Walaupun kita tidak tahu apakah beliau sudah melakukan prosedural yang benar atau tidak. Yang jelas, lebih baik, apapun kondisi pasieun, alangkah lebih baik ditangani dulu, didiagnosa dulu, jangan apa2 belum didiagnosa baru juga sampai lobby ud d tolak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah pentingnya mencari informasi dan memandang segala hal dari berbagai sudut pandang. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan seenaknya dan menyalahkan orang lain. Saya juga tidak bisa mengatakan apakah pihak RS benar atau salah.

      Semoga tidak sampai terjadi hal seperti itu di RS mana pun mbak o:)

      Delete
  5. Untuk mencerna sebuah kebenaran dari informasi yang diterima memang perlu dari berbagai referensi , kita sering terkecoh dg informasi yang sudah ditunggangi berbagai kepentingan pihak ketiga. Dan informasi seperti ini sudah umum dikonsumsi masyarakat dari berbagai media massa dan elektronik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas. Sayangnya, berita yang ditumpangi kepentingan pihak ketiga sudah beredar dimana-mana sekarang hahaha :))

      Delete
  6. Wah, itu mah emang udah takdir kayaknya deh. Atau dari awal salah bawa ke rumah sakit yang kurang lengkap peralatannya. Jadi, kelamaan di perjalanan dan kondisi pun memburuk. Oke, ini sotoy~

    Yang gue inget, sih, ada beberapa rumah sakit yang bukannya langsung nolongin, tapi ribet ngurusin administrasi. Misal harus DP berapa dulu baru dapet pertolongan. Padahal, kan, urusan uang bisa ditunda sejenak dan dicari belakangan ketika pasien itu sudah mendapatkan penanganan dokter. Sebetulnya, nyawa lebih penting, kan?

    Kalau harus cari dananya dulu, ya ribet. Nanti pasien itu keburu mati. :(

    Kasihan orang yang nggak punya banyak uang. Seolah-olah orang miskin nggak boleh sakit atau berobat. Wqwq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak bisa ikut campur hal seperti itu (pentingin ngurus administrasi dulu) karena hal itu tergantung dari kebijakan manajemen RS masing-masing, dan hal itu bukannya tidak ada tujuannya. Tujuannya bisa jadi supaya data rekam medis pasien ini bisa dicari terlebih dahulu sehingga dokter bisa melihat riwayat dan perjalanan penyakit pasien sebelumnya.

      Untuk urusan harus bayar uang DP dulu (seperti kasus Debora), sudah dibuktikan bahwa manajemen RS tersebut tidak sesuai dengan UU nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dan direkomendasikan agar manajemen RS tersebut dirombak.

      Tenang mas. Pemerintah dan tenaga kesehatan kita masih lebih mentingin nyawa dibanding uang. Buktinya RS kasus Debora ditindak cepat kok oleh pemerintah. Semua yang bekerja di bidang kesehatan pasti sependapat dengan saya: kesehatan dan senyum serta ucapan terima kasih dari pasien itu lebih menyejukkan hati dibandingkan apa pun :D

      Delete
  7. Ada banyak pihak yang terlibat. Dan kita enggak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Aku pun pernah dipulangkan dari UGD karena kamar perawatan penuh. Tapi mau bagaimana lagi, kalau penuh masa mesti minta paksa. Akhirnya ya aku dianter ke rumah sakit lain.

    Pada akhirnya aku cuma bisa mencoba untuk berprasangka baik. Mengingat saat ini segalanya terkadang suka dilebih-lebihkan. Daripada aku ikut-ikutan kepancing emosi padahal ternyata belum tentu benar, mending doakan saja semoga keadaan akan lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas prasangka baiknya mbak. Terima kasih juga atas doanya dan semoga kondisi segala aspek kesehatan di negeri kita ini bisa menjadi lebih baik o:)

      Delete
  8. posting yang penuh manfaat gan, akhirnya tau bedanya UGD dan IGD, terus tau bagaimana pelayanan kesehatan tidak mungkin menolak pasien, terus video LSM KPK yang berani keroyokan ini viral. Mungkin kepanjangan KPK ini adalah Komunitas Pengeruh Keadaan mungkin bay?

    ReplyDelete
    Replies
    1. UGD sama IGD itu cuma beda huruf U sama I aja ndi. U itu unit, I itu instalasi. Fungsinya tetap sama :D

      Nah, cocok tuh Komunitas Pengeruh Keadaan :))

      Delete
  9. Iya, aku paham, bahkan sangat paham dengan hal-hal begitu. Saya sendiri pun kadang tidak mengerti dengan mereka yang tiba-tiba marah-marah ke dokter. Padahal, dokter melakukan tindak ke pasien juga penuh dengan hati-hati dan pertimbangan. Gak segampang mengobati orang yang beli obat di warung.

    ReplyDelete
  10. KPKnya ini ada kepanjangan sendiri Bayu, bukan KPK yg itu. gengges ya :) aku sedih karena beberapa LSM justru ngomporin kasus2 kyk gini untuk dpt keuntungan dr kasus perdata.

    Ini opini saya dari orang awam dunia kesehatan yang sering jadi pasien dan sbg orang yang yakin hidup mati di tangan Allah. Ada orang yang kecelakaan parah banget, mobilnya hancur. Beliau gkpapa, gk kegores satu luka pun sehat walafiat. Ini bukan karena beliau punya ilmu ajaib atau apa tapi karena memang belum ditakdirkan untuk itu - siapa orang tsb? Ustdz Felix Siauw. Pernah ada kejadian yg bikin sy ngerasa begitu dekat dgn kematian, sampek pas bangun saya pikir bangun di alam lain. Tapi nggak, saya masih selamat cuma ya dgn beberapa kondisi fisik yang butuh penanganan medis. Sementara seseorang yang bersama saya waktu itu meninggal :( yang saya tangkap dari ini adalah tenaga medis adalah perantara dan simbol usaha untuk kesembuhan dan kesehatan. mereka tidak menentukan sehat-sembuhnya kita karena yang punya sehat dan sembuh ya Allah semata, tapi benar bahwa mereka punya pengetahuan dan pengalaman yang lebih banyak dibanding orang lain tentang penyakit dan kesembuhan serta apa langkah yang harus dilakukan untuk mengantarkan pasien pd kesembuhan.

    masalah bayi Deborah itu aku cukup paham posisi RSnya gimana, itukah RS swasta yang jelas2 gak kerjasama dengan BPJS dan sudah jelas juga biayanya premium. banyak kok dokter yang mau memberikan sumbangsih skill mereka dalam menyelamatkan pasien yang gawat dengan gratis, tapi RS kan nggak gitu, mereka punya prosedur sendiri. Gimanapun itu tetap saja badan usaha yang mencari keuntungan, buat apa? ya untuk bayar dana operasional semua alat, obat dan pekerja medis serta non medis. sama saja dengan hotel dan restoran. bedanya orang tahu kalau masuk hotel pasti kudu bayar dulu, masuk restoran kudu siapin uang dulu, tapi nggak mau terima prosedur pembayaran rumah sakit yang harus dibuat dulu padahal mereka membutuhkan layanannya.

    saya bakalan dikira orang gila kalau ngotot nginep dulu di hotel mahal padahal nggak ada uang. entah status saya perantauan, gelandangan whatsoever lah. nggak bakal ada juga yang kesian kalo saya ngangkat ini ke media. beda dengan kasus2 medis yg langsung terblowup dgn headline yg langsung mempengaruhi byk orang jadi beropini negatif.

    tapi kan gk apple to apple, gk ada sangkut pautnya sama nyawa orang? balik lagi ke atas deh bahwa RS swasta juga butuh uang untuk bayar operasional. dan RS BPJS juga butuh dokumen lengkap untuk tagihan ke BPJS karena kalau nggak lengkap dan gk sesuai prosedur, bs gak dibayar.

    kesian tenaga medis jaman sekarang, banyak banget tekanan.

    keep posting Bayu, masyarakat butuh melihat masalah dari sudut pandang tenaga medis juga biar lebih cover both sides.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pengertian mbak Ninda. Saya yakin dan sangat berharap kebanyakan masyarakat berpikiran seperti mbak Ninda :D

      BPJS bilang bahwa walaupun RS tidak bekerja dengan BPJS, biaya penanganan darurat di IGD bisa diklaim ke BPJS. Namun, kenyataannya? Tidak mudah loh mengajukan klaim ke BPJS, sampai ditolak berulang-ulang *ini cerita yang saya baca. Saya juga belum bisa memastikan kebenarannya.

      Yang sangat disayangkan itu banyak masyarakat yang berpikiran semua dokter itu kaya dan haus akan kekayaan. Padahal tidak semua dokter yang seperti itu :)

      Ini komentar mbak Ninda kalau dikumpulin bisa jadi satu postingan nih mbak *eh *maap becanda haha -_-

      Delete
  11. Oh ini yg ribut ribut kemaren ya
    Cuma bisa ikut prihatin sih

    Tapi menurutku itu bukan salah RS, karena memang sistem pelayanan kesehatan zaman skrg udah bertahap sesuai tingkatannya. Cukup disayangkan juga kenapa justru dokternya yang kena padahal semua adalah keputusan RS yang berusaha mematuhi SOP dan peraturan dinkes/kemenkes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yang sempat ribut-ribut itu mas haha :D

      Ya begitulah jadinya jika kita hidup di negara demokrasi mas. Semua orang bisa jadi jurnalis, bisa dengan senang hati menyuarakan pendapatnya melalui internet, dan senang debat kusir di media sosial.

      Delete
  12. Sebagai orang luar yang memang tidak begitu paham kasus yang sebenarnya walau banyak pemberitaan di media, saya ikut prihatin dg adanya kejadian ini smg pihak keluarga yg sdg kena musibah ditambahkan kesabarannya oleh yg maha kuasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pengertian dan doanya mbak. Aamiin ya Allah o:)

      Delete
  13. Saya semakin prihatin dgn hal-hal spt ini, apalagi skrg netizen terlalu liar memberikan komennya, terlalu memblow up, pdhl saksi juga bukan, tapi merasa paling faham :(

    Setiap di rumah sakit skrg suka saya lihat himbauan dilarang mengintimidasi tenaga kesehatan, mgkn supaya jangan ada lagi kasus2 spt ini ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah dampak dari kebebasan berpendapat di negara kita ini mbak.

      Wah, saya baru tahu ada RS yang memasang himbauan seperti itu mbak. Mungkin tujuannya supaya pasien dapat menyampaikan pertanyaan atau rasa penasarannya terhadap hal apa pun kepada dokter dengan cara baik-baik, bukan dengan cara intimidasi :)

      Delete
  14. Semoga keluarga korban bisa tabah dan berbesar hati menerima dan mengikhlaskan
    Semoga nggak sumbu pendek dan gampang kesulut sama LSM yang jadi minyak tanah di kasus itu tuh

    Mudah2an gak ada kejadian yg sama lagi ke depannya.
    Ngilu :'(

    ReplyDelete
  15. kadang media itu ya ya allah
    tapi ada adagium, kalao pasien meninggal sudah berusaha (dengan alat terbaiknnya) tapi ybs meninggal itu memang takdir
    kalau memang menolak ya berarti ada yg gak beres

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenaga kesehatan hanyalah perantara dari takdir Allah. Pada akhirnya, Allah yang menentukan nasib setiap umat manusia.

      Terima kasih atas bantuan pengertiannya mas :D

      Delete
  16. Aku pernah mengalami sendiri kejadian serupa itu, meski nggak sampai ada nyawa terancam. :'D Jadi ada 2 rumah sakit. Sebut saja RSA dan RSB. Di RSA, ketika ada pasien datang, langsung ditangani meski kartu asuransi sudah ketinggalan. Lain cerita di RSB, mau segawat apa pun, kalau kartu asuransi ketinggalan nggak bakal ditangani. Yang ada malah dimarahi sama perawat2nya. :'( (Duh, jadi curcol) Peraturan rumah sakit memang berbeda2 sih. :'D Tapi aku udah kapok ke RSB.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak bisa ikut campur tentang hal itu mbak, karena itu tergantung dari kebijakan RS masing-masing. Tentu ada alasan mengapa RS membuat alasan seperti itu, dan seingat saya pihak BPJS sudah mengingatkan kepada para pemegang kartunya agar kartu BPJS selalu dibawa.

      Terima kasih atas sharingnya mbak :D

      Delete
  17. Itulah jika termakan berita tanpa ditelaah dan tanpa croscek kebenaran atau kronologinya. Ya itu berita intinya ingin mengejar ranking dan pembaca yang banyak agar iklannya menghasilkan duitu.
    Menejemen yang kurang baik, jadi dokter atau karyawan rumah sakit yang disalahkan. Pada intinya kan RS juga cari untung bukan ?
    Semoga kita, kedua belah pihak saling bebenah. Dan pemerintah bisa menjadi jembatan yang saling menguntungkan. Lah saya sendiri juga bingung ngomong apa ini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kita para blogger pasti tau gimana pentingnya traffic mas hehe :D

      RS juga mencari untung mas. Kalau tidak ada untung, operasional RS tidak akan bisa berjalan. Saya tidak mengingkari hal ini.

      Mari kita bantu setiap program yang dijalankan oleh pemerintah kita, terutama program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraaan masyarakat Indonesia :D

      Delete
  18. biasanya sih pengguna facebook yang suka memviralkan berita tanpa paham keadaan yg sebenarnya gimana..
    suka seenaknya share. share. komen. komen. share.
    memang jadinya sulit buat tau siapa yang benar dan siapa yang salah..
    karena dibalik berita juga kadang ada kepentingan lain..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak berita yang ditumpangi kepentingan lain atau sekedar ingin cari sensasi sudah beredar luas sekarang ini. Contoh gampangnya, silahkan lihat bagaimana beberapa media memberitakan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru :D

      Delete
  19. banyak masyarakat yg ga ngerti dunia kesehatan. kadang mereka melihat judul heboh tanpa baca detil cerita langsung caci maki. temenku cerita susahnya jadi dokter-dianggap mau cari untung padahal nggak gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banyak yang seperti itu tuh. Cuma baca judul, tapi langsung maki-maki hahaha :))

      Begitulah tekanan yang dirasakan dokter sejak dulu mbak. Sekarang dokter-dokter udah nggak tahan lagi, makanya mulai berkoar-koar. Eh pas dokter bersuara, malah dikomentarin negatif lagi haha :))

      Saya pernah baca kayak gini mbak,

      Karyawan nggak dibayar gajinya = penindasan
      Dokter nggak dibayar gajinya = pengabdian

      ???

      Hahaha :))

      Delete
  20. Kalo saya akan melihat dan menanggapi dari sisi informasi. Dan emang benar terkadang oknum / media yang suka melebih-lebihkan berita tanoa proses tabayyun.

    Ditambah lagi, kebiasaan masyarakat kita yang suka latah akan informasi hoax. Gampang di adu domba dan lain-lain.

    Jadi awal mula dari permasalahan ini karna informasi yang kurang benar. Mungkin juga karna ada faktor sudah berkurangnya kepercayaan masyarakat atas keadilan, dendam, atau pun lain-lain hal yang membuat persepsi bahwa orang sakit ga diterima dirumah sakit itu karna urusan duit.

    Dan pada akhirnya ujung-ujungnya duit. Duit telah membutakan hati manusia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pengertiannya mas hehe :D

      Semoga saya dan kita semua menjadi lebih cerdas dalam menanggapi berbagai berita dan cerita yang beredar di dunia informasi serba bebas ini. Aamiin ya Allah o:)

      Delete

Post a Comment