Menunggu Jam Karet

Suatu ketika beredarlah pengumuman tentang sebuah acara yang isinya:
Acara dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB di lapangan terbuka.
Para peserta harap datang tepat waktu.
Pagi itu suasana kota Pekanbaru sedang sejuk karena diguyur hujan gerimis yang cukup awet sejak dini hari. Saya sebenarnya ragu apakah acara dapat dilaksanakan tepat waktu, mengingat acara dilaksanakan di lapangan terbuka dan cuaca hujan gerimis menyelimuti Pekanbaru pagi ini. Namun, sebagai anak baik-baik yang terlalu patuh dengan aturan, sampailah saya di tempat pelaksanaan acara tepat pada pukul 09.00 WIB *ini baru namanya tepat waktu :D

Apa yang saya temukan? Seperti yang saya duga sebelumnya, acara belum dimulai saat saya tiba di tempat pelaksanaan acara. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Panitia acara tampak belum siap untuk menggelar acara tersebut. Saya bisa melihat kursi-kursi peserta yang belum rampung disusun sehingga beberapa peserta masih berdiri. Saya juga melihat sound system yang belum terpasang apalagi dinyalakan. Peserta yang sudah hadir pun baru sedikit, masih kurang dari setengah total peserta. Mungkin mereka memiliki dugaan yang sama seperti saya dan sengaja untuk datang terlambat.

Saya berulang-ulang melirik ke arah jam tangan yang saya kenakan seraya mengeluh, “kapan mulainya nih? Kenapa belum mulai-mulai juga?” Tanpa ada pemberitahuan apa pun, panitia tampak mondar-mandir di atas panggung dan para peserta yang telah hadir tidak dihiraukan sama sekali. Saya dan para peserta yang lain merasa “digantung” oleh panitia. Kami menunggu di tengah lapangan terbuka tanpa kejelasan mengapa acara belum juga dimulai.

Tiba-tiba terdengarlah suara seorang bapak-bapak dari speaker yang telah digelar di lapangan terbuka. Saat itu juga saya kembali melihat jam tangan, “jam 11 ya? Akhirnya mulai juga!”

Laki-laki itu menyapa kami dengan salam, “Selamat pagi, para peserta semuanya.”

Saya menjawab, “Selamat siang, pak!”

Laki-laki itu melanjutkan,
“Terima kasih karena sudah bersedia menunggu.
Kita sama-sama menunggu dari tadi. Oleh karena itu, mari kita mulai.”
Kita sama-sama menunggu? Bukankah para peserta yang menunggu? Bukankah kami yang menunggu selesainya persiapan dari bapak-ibu panitia sekalian?

* * *

Selamat datang di Indonesia yang sudah terbiasa dengan jam karet :)


Menurut saya, kejadian di atas bukanlah cerita baru bagi kita. Mungkin kita semua pernah mengalami hal tersebut. Mungkin kita semua pernah melihat sebuah acara atau rapat yang dimulai tidak tepat waktu, atau bahkan sering. Karena terlalu sering, acara yang selalu molor sudah tertanam di dalam pikiran kita. Misalnya, saat ada pengumuman sebuah rapat yang dimulai pada pukul 09.00 pagi, hampir dapat dipastikan ada tanggapan “ah, nggak mungkin jam 09.00 mulainya. Paling cepat jam 09.30 baru mulai tuh.” Walhasil, dengan mindset seperti itu, banyak orang-orang yang datang terlambat. Banyak orang-orang yang baru datang di atas jam 09.00. Orang-orang yang sudah datang tepat waktu tidak bisa memulai rapat karena jumlahnya yang sedikit sehingga terpaksa menunggu mereka yang membuang-buang waktu. Betul?

Menunggu adalah hal yang menjemukan. Tiada hal yang lebih sia-sia selain menunggu tanpa kejelasan. Saya yakin para pembaca sekalian sudah pernah menjadi korban dari pembunuh waktu yang satu ini. Saat kita sudah berusaha datang tepat waktu bahkan datang lebih awal untuk menghadiri suatu acara atau rapat, namun kita masih harus menunggu seluruh peserta lengkap atau menunggu persiapan selesai, disitu kadang saya merasa sedih *halah -_-

Penghargaan kita berikan kepada mereka yang datangnya terlambat. Acara atau rapat belum bisa dimulai jika mereka belum datang. Mereka seolah-olah menjadi “kunci” dari acara tersebut. Padahal sebenarnya mereka adalah penghambat dan musuh utama dari orang-orang yang sudah berusaha tepat waktu. Mereka telah menyia-nyiakan waktunya sendiri dan waktu milik orang lain.

Saya berbicara seperti sangat membenci orang-orang yang tidak menghargai waktunya. Namun, bukan berarti saya tidak pernah datang terlambat. Saya rasa semua orang pernah menjadi orang yang terlambat. Tetapi, pengalaman terlambat yang saya alami membuat saya malu. Saat itu saya menjadi pemimpin sebuah rapat dan semua anggota yang lain sudah hadir, kecuali diri saya sendiri. Rapat langsung dimulai setelah saya datang. Sejak saat itu, saya selalu berusaha menghargai waktu.

Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang rapat di sebuah instansi pemerintah. Salah seorang kepala bagian di instansi tersebut merupakan orang yang sangat tepat waktu. Hal tersebut juga ia terapkan dalam melaksanakan rapat bagian. Jika ia bilang rapat bagian akan dilaksanakan pukul 10.00 pagi, tidak peduli berapa jumlah anggotanya yang hadir, rapat akan tetap dimulai tepat pukul 10.00 pagi. Jika ada anggota yang datang terlambat, ia akan disambut oleh kepala bagian itu dengan ucapan, “silahkan duduk. Maaf ya kami mulai rapatnya terlalu cepat.” Jika saya menjadi anggota yang datang terlambat itu, mungkin saya akan menjawab, “eh nggak apa-apa pak. Silahkan mulai rapatnya. Saya pergi dulu ya pak.” Malu luar biasa itu hahaha :))

Jika mindset jam karet ini terus kita pelihara di Indonesia, sepertinya kita akan terus tertinggal dari negara-negara lain yang sudah maju. Saat negara lain sudah menjadi negara maju, kita masih saja menjadi negara berkembang. Entah sampai kapan negara ini akan berkembang tidak tentu arah. Mari kita mulai menghargai waktu. Hal-hal kecil yang dimulai dari diri kita sendiri pada akhirnya akan berubah menjadi besar dan dapat mempengaruhi orang lain. Jika Anda pernah merasakan pahitnya menunggu tanpa kejelasan, jangan biarkan orang lain mengalami rasa pahit yang sama karena diri Anda. Saya ingat sebuah kata-kata mutiara tentang waktu yang isinya:
Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 tahun, tanyakan kepada siswa yang tinggal kelas.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 bulan, tanyakan kepada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 minggu, tanyakan kepada redaksi dan editor majalah mingguan.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 hari, tanyakan kepada orang yang bekerja dengan gaji harian.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 jam, tanyakan kepada seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 menit, tanyakan kepada orang yang ketinggalan kereta.

Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 detik, tanyakan kepada atlet lari 100 meter.
Sekian dan terima kasih :)

Comments

  1. Jika Anda ingin mengetahui betapa berharganya waktu 1 detik, tanyakan kepada atlet lari 100 meter. ijin retweet nih :D

    ReplyDelete
  2. pernah tuh di sebuah acara yg ngaret 1 jam ada bule nyeletuk "well, Indonesia" sedih sedih kesel dengernya ;(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata sudah terkenal ya jam karet Indonesia sampai ke kancah internasional. Saya tidak tahu harus bangga atau prihatin atas "prestasi" ini hahaha -_-

      Delete
  3. Yes, inilah negeri kita. Sebenernya bukan negeri kita yang bermasalah dengan masalah jam atau tidak tepat waktu, tapi orang - orang kita. Kebanyakan memang kurang menghargai waktu :( padahal waktu itu sangat berharga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak. Waktu sangatlah berharga. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa kita tarik kembali. Mari kita mulai menghargai waktu dari diri sendiri dan orang-orang terdekat kita :)

      Delete
  4. Saya itu yang ketinggalan kereta :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, beneran berharga satu menit itu kan mbak? :D

      Delete
  5. bener banget bay.. aku pernah rapat, jam 9, baru mulai jam 1 siang. Mereka pikir yang dateng tepat waktu itu ga punya agenda lain ya? sakit hati, bay, sakit. *bakar*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ternyata ada yang lebih "mahal" jam karetnya daripada punya aku hahaha -_-
      Yang tabah ya mas andie :p

      Delete
  6. Jika tepat waktu justru dianggap orang sok idealis atau bahkan dianggap orang sinting. Repot juga kan ? ya udah mari kita sama-sama jadi orang penunggu. Penunggu kuburan ya ?? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah kita semua akan menjadi penunggu kuburan jika saatnya telah tiba mas *mendadak serem -_-

      Delete
  7. jadi inget kata teman saya, dia bilang gini "Jangan pernah menghukum mereka yang tepat waktu dengan menunggu mereka yang datang terlambat". Saya juga rada kesal kalau ada acara tapi jamnya molor mulu, dan kebanyakan pengalaman kayak gini sering saya dapat kalau ada kegiatan blogger. Bukan saya sok tepat waktu, tapi saya cuman mau bilang waktu itu jalan terus gak dan kegiatan kita bukan cuman nunggu acara yang belum dimulai dari jam yang sudah dijanjikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas. Seharusnya kita memberikan penghargaan kepada mereka yang telah datang tepat waktu dengan memulai kegiatan tepat pada waktunya. Menunggu adalah hal yang sia-sia dan sangat membuang waktu.

      Delete
  8. iyah ngerasain banget jam kaya gini...
    jujur aku bukan tipe yang suka ngaret jam. tpi kalau ada janjian sama temen mereka itu pasti malah minta ditungguin og.. malesin.. ahahha yaudahlah yah

    sekrang gawe di pabrik jepang yang restrict banget sama waktu. bahkan hitungannya menit. 11.35 dri 11.30 belum mulai produksi yaudah bakal di lempar pertanyaan "kenapa" sama sensei..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya mas. Saya juga sering tuh disuruh nunggu mereka yang telat haha -_-

      Jepang memang panutan banget tuh kalau masalah disiplin hehe :D

      Delete
  9. Aku juga sering menunggu gitu, memang menjemukan, apalagi ngaretnya jauh banget dari jam yang di targetkan, seperti apa yang mas Bayu ceritakan, dari pukul 9 jadi pukul 11 di mulai.. Lama itu..

    Betul juga, acara belum di mulai karena menunggu satu atau dua orang yang datang, harusnya setiap terjadi keterlambatan seperti itu bisa diambil pelajarannya, kedepanya perbaiki, supaya tak terjadi hal yang seperti itu lagi..

    Jangan sampai memakluminya, sering dapet celotehan, "biasalah indonesia, ngaret mah wajar".. Semoga kita bisa menghargai waktu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miris dengarnya kalau ngaret udah dianggap budaya :(
      Semoga anggapan seperti ini bisa musnah di Indonesia.

      Delete
  10. Aku paling sebal kalau ketemu yang molor-molor gini. Tapi alhamdulillah belakangan ini cukup banyak kok datang ke acara yang tepat waktu.
    Mungkin artinya sudah banyak orang yang menghargai waktu.
    Tapi justru di rumah sakit aku masih selalu menemukan dokter yang dateng tak jelas dari jam prakteknya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah alhamdulillah tuh mbak jika sudah banyak yang mulai menghargai waktu :)

      Saya tidak ingin berprasangka buruk kepada dokter tersebut mbak, karena saya tidak tahu apa yang menyebabkan ia datang terlambat. Siapa tahu ada kepentingan mendadak sebelumnya hehe :D

      Delete
  11. Teringat Ramadhan lalu, saya diminta memberi ceramah Ramadhan di hadapan remaja masjid. Panitia sudah mewanti-wanti saya agar datang tepat waktu. "Jam 7 pagi tepat, lho, Bro!" Aku jawab, "Siap!"
    Agar tidak terlambat, kasihan kalau sampai mereka menunggu, jam 7 kurang 10 menit saya sampai di TKP. Alhamdulillah, baru ada 2 orang. Satu orang memasang sound system, satunya lagi menggelar tikar. Saya tentu tidak bisa tinggal diam. Saya bantu mereka menyiapkan semua peralatan dan perlengkapan. Jam 8 belum banyak yg datang. Jam 8.30 belum juga mulai.
    Alhamdulillah, akhirnya jam 9 lebih 15 menit baru dimulai. "Indonesiaa.... Oh, Indonesia! Mengapa kau begini?" ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang sangat disayangkan adalah jam karet sepertinya sudah menjadi hal yang biasa di tengah masyarakat Indonesia ini -_-

      Oalah ngaret 2 jam lebih itu mas Irham. Maafkan kami generasi muda ini ya mas. Semoga kita semua bisa mulai menghargai waktu di masa yang akan datang. Aamiin ya Allah o:)

      Delete
  12. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita emang suka korupsi. Ya korupsi waktu salah satu contohnya. Sayangnya hal ini dianggap sudah menjadi kewajaran. Jadi ya kalo korupsi masih banyak di negeri, itu karna kebiasaan kita sendiri sehari-hari.

    Tapi saya sendiri belum bisa menghargai waktu wahaha :(

    Padahal waktu adalah hal yang sangat jauh yang tak bisa kita sambangi, eh bener ga sih mas? Yang dikatakan imam al ghazali?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dibilang cikal-bakal korupsi juga ya mas?
      Semoga hal ini bisa kita berantas dari tanah air Indonesia!

      Mohon maaf saya belum pernah membaca pernyataan Imam Al-Ghazali itu mas. Saya masih belum banyak membaca nih berarti hehe :D

      Tetapi, waktu memang hal yang sangat jauh: masa lalu tidak akan pernah bisa kita kunjungi lagi dan kita juga belum tentu bisa sampai ke masa depan.

      Delete
  13. Waktu jadi kebuang sia-sia ya kalo suatu agenda acara molor. Harusnya bisa jadi cepet kelar, malah jadi makan waktu lebih panjang, agenda selanjutnya jadi ikut molor juga. Gregetan banget..

    Btw, salam kenal!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak. Banyak waktu yang terbuang sia-sia karena menunggu.

      Salam kenal juga mbak :D

      Delete
  14. sama banget kayak direkturku dulu, setengah jam sebelum jam kerja mulai sudah ada di ruangannya ngajakin meeting orang2 yg ternyata malah belum pada dateng semua
    cukup bikin segan dan layak untuk ditiru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul tuh, pasti segan kan kalau direkturnya yang datang duluan dan banyak anggotanya yang telat. Jadi, untuk kegiatan selanjutnya harus datang lebih cepat daripada direktur ;)

      Delete
  15. Sebel kalau udah molor. :( Ini nih ya yang bikin nggak maju2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mbak. Semoga kita semua bisa lebih menghargai waktu di masa yang akan datang o:)

      Delete

Post a Comment