Soal Ujian Mahasiswa Kedokteran

Ya, jangan tertipu oleh judulnya. Tidak akan ada soal atau kisi-kisi ujian yang dituliskan disini. Tulisan ini adalah sebuah kisah yang pernah saya baca, sekitar beberapa tahun yang lalu, tentang ujian seorang mahasiswa kedokteran. Tulisan ini saya masukkan di blog ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri dan semoga juga berguna untuk pembaca sekalian. Semua tokoh, watak, dan latar dalam kisah ini adalah rekayasa :)

Bagaimana kisahnya? Mari kita langsung ke Te-Ka-Pe :D

* * *


Ini kisah tentang Riri, salah seorang mahasiswi yang sedang menyelesaikan kuliah semester akhir di sebuah universitas negeri. Riri mengambil jurusan di sebuah fakultas yang menjadi idaman banyak mahasiswa saat itu, yaitu Fakultas Kedokteran.

Ini adalah fakultas yang (menurut keyakinannya) dapat membuat hidupnya lebih baik di masa mendatang, bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk keluarganya yang telah berusaha susah-payah mengumpulkan uang agar ia dapat meneruskan pendidikan dan lulus dari perguruan tinggi dengan baik. Kakaknya pun rela untuk tidak menikah tahun ini karena ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai segala keperluan kuliah yang cukup tinggi untuk ditanggung Riri seorang diri.

Kini tiba saatnya Riri harus mengikuti ujian akhir semester. Ujian yang diberikan oleh dosennya saat itu cukup unik. Sang dosen ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan, “agar aku bisa dekat dengan mahasiswa,” cerita Riri menirukan kata dosennya kepada mahasiswa beberapa waktu lalu.

Satu per satu pertanyaan dilontakan oleh sang dosen. Para mahasiswa peserta ujian berusaha menjawab pertanyaan itu sebaik mungkin dalam kertas ujian mereka. Ketakutan dan ketegangan Riri saat ujian terjawab saat itu, karena sembilan pertanyaan yang diberikan oleh dosennya dapat dijawab olehnya. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar ia tuliskan di lembar jawaban.

Dan sampailah di pertanyaan ke-10. “Ini pertanyaan terakhir,” kata dosen itu, “tuliskan nama ibu tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung fakultas ini,” kata sang dosen sambil menggerakkan tangannya menunjuk sekeliling ruang kuliah.

Mahasiswa seisi ruangan pun tersenyum. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, karena sangat jelas bahwa pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini. Begitu juga pikir Riri dalam benaknya.

“Ini serius!”

Sang dosen yang sudah agak tua itu mengeraskan suaranya, “kalau tidak tahu, lebih baik dikosongkan saja. Jangan suka mengarang nama orang!”

Riri tahu persis siapa orang yang ditanyakan oleh dosennya itu. Dia adalah seorang ibu tua, orangnya agak pendek dan rambutnya sudah putih. Mungkin ibu itu adalah satu-satunya cleaning service di gedung fakultas kedokteran tempat Riri kuliah. Ibu tua itu selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswi disini. Ia senantiasa menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tetapi, satu hal yang membuat Riri merasa konyol, justru ia tidak tahu nama ibu tua tersebut! Dengan terpaksa ia memberi jawaban kosong pada pertanyaan terakhir ini.

Ujian pun berakhir. Satu per satu lembar jawaban dikumpulkan ke tangan dosen itu. Sambil menyodorkan kertas jawaban, Riri mencoba memberanikan diri bertanya mengapa dosennya memberi “pertanyaan aneh” itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini.

“Justru itu adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini.”

Mendengar jawaban sang dosen, beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan tiap kata yang dibicarakan oleh dosennya.

“Pertanyaan itu memiliki bobot tertinggi dibandingkan dengan sembilan pertanyaan lainnya. Jika Anda tidak bisa menjawab pertanyaan itu, sudah pasti nilai Anda hanya C atau D,” ungkap sang dosen.

Semua terdiam, kecuali Riri yang kembali memberanikan diri untuk bertanya lagi, “kenapa Pak?”

Sang dosen itu menjawab sambil tersenyum, “hanya yang peduli pada orang-orang di sekitarnya yang pantas untuk jadi dokter.”

Lalu sang dosen pergi membawa tumpukan kertas jawaban ujian itu sambil meninggalkan para mahasiswa yang masih berwajah tertegun seolah tak percaya dengan ucapan dosen yang mereka dengarkan tadi.

Comments

  1. jleb banget ceritanya. Memang benar sih kadang saking hanyutnya dalam dunia sendiri, kita malah lupa dengan orang di sekitar kita. Saya jadi ingat pernah ditanyain gini oleh dosen saya juga di kuis mata kuliah, dia cuan bilang siapa mbak-mbak yang ngurusin WC sekaligus yang jualan di bawah tangga gedung C (Gedung ruang kelas kampus). Sontak semuanya menjawab dengan nama yang sama. Kalau saya ingat kembali, teman-teman jurusan saya memang akrab sama mbak itu soalnya setiap ada event himpunan kita tidak lupa membagi sedikit rezeki ke mbak itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal sudah banyak membantu kita, namun terkadang kita sering melupakannya. Langkah yang sangat baik sudah dilakukan oleh mas Bimo dengan membagi rezeki kepada orang yang telah membantu kita :D

      Delete
  2. JLebbbbb! Kalau aku pun langsung gagal. Bukan apa-apa,aku punya kebiasaan enggak ingat nama orang. Itu sebabnya juga kadang kalau kenalan sama orang baru aku suka enggak mau ambil pusing nanya nama. Soalnya emang mudah banget lupa namanya.
    Iya, ini emang jelek banget. Sekarang lagi belajar mengingat nama. Udah coba diucap diulang-ulang tapi tetap aja ga lama kemudian lupa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kepedulian memang nggak cuma ditunjukkan lewat menghafal nama, tetapi pasti kita juga merasa senang jika ada orang yang hafal dan ingat nama kita :)

      Ini juga jadi cambuk buat diri saya sendiri mbak. Mari kita lebih peduli terhadap orang sekitar kita :D

      Delete
  3. Aahh, andai semua ujian kedokteran ada pertanyaan begitu. Pasti semua dokter akan sangat peduli dengan lingkungannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Termasuk perduli dengan saya, yang tidak mampu membayar biaya berobat.

      Delete
    2. Untuk biaya pengobatan, seperti yang kita tahu, saat ini pemerintah sedang mengupayakan program Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dengan target seluruh warga Indonesia tercover JKN-KIS pada tahun 2017.

      Mari sama-sama kita dukung dan sukseskan program ini :)

      Delete
  4. untung awak bukan dokter bay, bay... cuma yang gitu tu, aku sering tegur tapi emang ga tau nama sih T.T

    terpuji kah?

    *nanya genteng bocor*

    ReplyDelete
  5. layout baru bay, fresh bener nih kolom komen waahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sering negur udah menunjukkan kepedulian tu ndi :D

      Template dari blogger aja ni. Kemaren iseng coba-coba ganti template, lumayan bagus juga menurut aku hahaha :))

      Delete
  6. Berarti saya juga pantas jadi dokter ya ? karena saya begitu perduli dengan sekitarnya. Apalagi jemuran tetangga yang lupa dimasukan, saya amankan terus saya jual ke tukang kiloan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi jika setelah dijual, uangnya disumbangkan ke orang yang membutuhkan mas hahaha -_-

      Itu mah nyolong namanya mas hahaha :))

      Delete
  7. Saya punya banyak sahabat di fakultas kedokteran. Dan memang rata-rata dari mereia sangat peduli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika tidak peduli dengan orang lain (terutama pasien), itu namanya dokter-dokteran :D

      Delete
  8. Reminder banget terlepas ujian dokter atau ga memang kita dituntut peka n aware dengan lingkungan sekitar kita. bagus ceritanya kang 👍👍👍👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak Herva. Alangkah indahnya dunia ini jika semua orang peduli satu sama lain :)

      Delete
  9. Ceritanya... makjleb bertubi2.. hehe
    Ini gamparan sih buat kita...
    Sangking sibuknya dengan urusan masing2, kadang kita melupakan orang2 yg udh berjasa banyak di sekitar kita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas. Ini juga pelajaran buat saya. Mari kita lebih peduli lagi dengan orang-orang di sekitar kita :)

      Delete
  10. Entah saya mau berpendapat apa lagi, kata-kata itu membuat diri ini "setuju" tapi mungkin tak hanya untuk dokter saja tapi kepedulian harus dimiliki oleh semua orang dari berbagai jenis profesi.

    #RESPECT #RESPECTFORDOSEN

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas. Kepedulian tidak hanya ditunjukkan oleh profesi dokter saja, melainkan oleh kita semua :D

      Delete
  11. jadi kesian sama ibu cleaning servicenya
    karena ya itu cleaning service itu banyak tapi yg menyenangkan dan sopan kayaknya jarang2 deh
    sudah gitu masih banyak yg gk ngeh nama ibunya
    :(
    padahal cm fiksi ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar kisah fiksi, tetapi ada hikmah yg bisa kita diambil darinya :)

      Delete
  12. kadang (mungkin sering) kita udah merasa tau segalanya dan arogan, sampe lupa sama hal-hal kecil disekitar kita yang justru lebih penting. akk bagus lah buat self reminder :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak. Kita sering menganggap sepele beberapa hal yang ada di sekitar kita. Ini juga pengingat buat diri saya dan kita semua mbak :D

      Delete
  13. Setuju banget sama quotes terakhirnya. :D Kalau seorang dokter udah nggak mau peduli, apa yang bakal terjadi ke depannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dokter-dokteran yang seperti itu akan menganggap pasiennya sebagai objek yang dapat dikuras sedalam-dalamnya. Semoga tidak ada dokter yang seperti itu di dunia ini. Aamiin ya Allah o:)

      Delete
  14. Benar sekali. Semua adalah milik Tuhan. Termasuk ilmu yang kita miliki. Tidak sepatutnya manusia bersikap arogan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak. Tidak ada yang dapat disombongkan dari diri manusia yang hina di hadapan Tuhan.

      Delete

Post a Comment