Hari Tasyriq dan Keutamaannya

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar
Laa ilaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd
Hari Jumat kemarin, tanggal 1 September 2017, bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1438 H. Gema takbir giat dikumandangkan di berbagai penjuru. Sapi, kerbau, kambing, serta olahan dagingnya mendadak ramai diperbincangkan. Ya, pada hari itu seluruh umat Islam memperingati Hari Raya Iduladha. Karena masih dalam suasana hari raya, saya mengucapkan selamat hari raya Iduladha 1438 H. Mohon maaf lahir dan batin :)


Tiga hari berikutnya, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, disebut dengan hari tasyriq. Hari tasyriq merupakan salah satu waktu yang diharamkan untuk berpuasa. Ya, saya mengetahui hal tersebut sejak saya belajar di bangku Sekolah Dasar (SD). Namun, saya tidak mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud dengan hari tasyriq. Keingintahuan akan makna hari tasyriq membuat saya menelusuri berbagai referensi untuk mendapatkan jawaban. Hasil dari penelusuran tersebut saya tuliskan disini dan semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.

* * *

Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah Iduladha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Istilah tasyriq diambil dari kata dalam bahasa Arab, yaitu [ شرقت الشمش ] yang artinya matahari terbit, atau dari kata [ شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ ] yang artinya menjemur sesuatu.

Abu Ubaid mengatakan, “ada dua pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari Tasyriq. Pertama, dinamakan hari tasyriq karena kaum Muslimin pada hari itu menjemur daging qurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan ber-qurban tidak dilakukan, kecuali setelah terbit matahari.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “hari tasyriq adalah tiga hari setelah Iduladha (yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah). Disebut tasyriq karena tasyriq itu berarti mendendeng atau menjemur daging qurban di terik matahari. Dalam hadits disebutkan, hari tasyriq adalah hari untuk memperbanyak dzikir, yaitu takbir dan lainnya.”

Pada zaman dahulu, sebelum adanya lemari pendingin atau kulkas atau freezer, daging qurban diawetkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Itulah sebabnya hari-hari tersebut dinamakan dengan hari tasyriq.

Hari tasyriq merupakan salah satu hari ‘ied (hari raya) bagi kaum muslimin dan merupakan salah satu hari yang agung di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, Hari Iduladha, dan hari-hari tasyriq adalah ‘ied kami, kaum Muslimin. Hari tersebut (Iduladha dan hari tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” (HR. Abu Daud no. 2419, Tirmidzi no. 773, An Nasa-i no. 3004, dari ‘Uqbah bin ‘Amir)

أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari qurban (Iduladha), kemudian hari al-qarr.” (HR. Abu Daud no. 1765, Ibnu Khuzaimah no. 2866, dari ‘Abdullah bin Qurth)

Yang dimaksud dengan hari al-qarr adalah tanggal 11 Dzulhijjah, sebagaimana keterangan dari Ibnu Khuzaimah, bahwa Abu Bakar mengatakan:

يَوْمَ الْقَرِّ يَعْنِي يَوْمَ الثَّانِي مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ

“Hari al-qarr adalah hari kedua setelah hari qurban.”

Hari tasyriq merupakan salah satu waktu yang diharamkan untuk berpuasa karena hari tasyriq merupakan hari untuk makan dan minum, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

« عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Dari Nubaisyah Al Hudzalli, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1141)

Ibnu Rajab mengatakan, “kita dilarang berpuasa pada hari tasyriq karena hari tasyriq adalah hari raya kaum Muslimin, disamping hari raya qurban. Oleh karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut mayoritas ulama.”

Mengapa diharamkan berpuasa pada hari tasyriq? Ibnu Rajab menjelaskan:

Ketika orang-orang yang bertamu ke Baitullah telah mengalami keletihan karena perjalanan berat yang mereka lalui, disamping kelelahan setelah ihram dan melaksanakan manasik haji dan umrah, Allah mensyariatkan kepada mereka untuk beristirahat dengan tinggal di Mina pada hari qurban dan tiga hari setelahnya. Allah perintahkan mereka untuk makan daging sembelihan mereka. Di saat itulah mereka mendapatkan jamuan dari Allah karena kasih sayang Allah kepada mereka.

Sementara itu, kaum Muslimin di belahan negeri yang lain turut menyemarakkan ibadah seperti yang dilakukan jamaah haji. Kaum Muslimin memperbanyak amalan ibadah selama 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Mereka juga disyariatkan untuk memperbanyak dzikir, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan bersama-sama berusaha menggapai ampunan Allah dengan menyembelih hewan qurban. Setelah itu, mereka bersama-sama merayakan Iduladha dan hari tasyriq. Setelah mereka lelah dengan memperbanyak ibadah, mereka beristirahat dan menikmati hidangan daging qurban di hari tasyriq.

Allah syariatkan kaum Muslimin untuk menjadikan hari tasyriq sebagai hari makan dan minum agar bisa membantu mereka untuk semakin giat dalam berdzikir mengingat Allah dan melakukan ketaatan kepada-Nya. Itu merupakan bentuk syukur nikmat yang paling sempurna, dimana nikmat yang kita terima menjadi sarana untuk membantu agar semakin giat melakukan ibadah.

Mengingat hari tasyriq merupakan hari yang agung di sisi Allah, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan pada hari tasyriq. Pada hari tasyriq disyariatkan kepada kaum Muslimin untuk memperbanyak dzikir kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada beberapa hari yang terbilang” (QS. Al-Baqarah: 203)

Yang dimaksud dengan hari yang terbilang adalah hari-hari setelah hari Iduladha, yaitu hari-hari tasyriq. Inilah pendapat Ibnu ‘Umar dan pendapat kebanyakan ulama. Dzikir kepada Allah dapat kita lakukan dalam bentuk:
  • Bertakbir setiap selesai shalat wajib. Hal ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama serta praktek Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang bertakbir sejak ba’da shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga ba’da shalat zuhur pada tanggal 13 Dzulhijjah dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang bertakbir sejak ba’da shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga ba’da shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah.
  • Membaca bismillah dan bertakbir ketika menyembelih hewan qurban. Waktu untuk menyembelih hewan qurban adalah hingga akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun, mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu untuk menyembelih hewan qurban hanya tiga hari, yaitu hari Iduladha dan dua hari tasyriq setelahnya (11-12 Dzulhijjah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, dan juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan kebanyakan ulama.
  • Berdzikir kepada Allah saat makan dan minum dengan membaca basmalah ketika mulai makan dan minum, kemudian mengakhirinya dengan hamdalah.
  • Berdzikir kepada Allah dengan membaca takbir saat melempar jumrah di hari tasyriq. Amalan ini khusus untuk orang yang sedang menjalankan ibadah haji.
  • Berdzikir kepada Allah dengan memperbanyak takbir secara mutlak, dimana pun dan kapan pun, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau bertakbir di kemahnya di Mina, kemudian diikuti oleh banyak orang sehingga Mina bergetar karena gema takbir.

Amalan lainnya yang dianjurkan pada hari tasyriq adalah memperbanyak doa kepada Allah. Ikrimah (murid Ibnu Abbas) mengatakan,

{ كان يستحب أن يقال في أيام التشريق : { رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Doa berikut dianjurkan untuk dibaca pada hari tasyriq: rabbana aatinaa fid-dun-yaa hasanah wa fil aa-khirati hasanah wa qinaa adzaaban-naar (ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka).”

Doa di atas disebut dengan doa sapu jagad. Doa ini dianggap sebagai doa yang isinya mengumpulkan semua bentuk kebaikan dan menolak semua bentuk keburukan. Oleh karena itu, doa ini menjadi doa yang paling sering dilantunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik mengatakan,

« كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Doa yang paling banyak dilantunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: rabbana aatinaa fid-dun-yaa hasanah wa fil aa-khirati hasanah wa qinaa adzaaban-naar.” (HR. Bukhari no. 6389, Muslim no. 2690)

Doa merupakan bentuk mengingat Allah yang sangat agung karena di dalam doa terdapat pujian dan harapan manusia kepada Tuhannya. Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah al-Qurasyi, bahwa beliau mendengar Abu Musa al-Asy’ari berceramah dalam khutbahnya ketika Iduladha, “setelah hari raya qurban ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya sebagai al-ayyam al-ma’dudat (hari-hari yang terbilang). Doa pada hari-hari ini tidak akan ditolak. Oleh karena itu, perbesarlah harapan kalian.”

Semoga kita diberikan kesempatan dan kemudahan oleh Allah untuk mendapatkan keutamaan dan keistimewaan yang terdapat pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyriq. Aamiin ya Allah ya rabbal ‘alamin.

* * *

Saya bukanlah seorang ahli agama dan bukan pula seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi di bidang agama. Yang saya tuliskan disini adalah kesimpulan dari pemikiran saya yang saya akui sangat lemah. Oleh karena itu, saya mohon maaf jika ada kekhilafan yang saya tuliskan disini. Semoga sedikit tulisan yang saya muat disini memancing diri kita untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang hari tasyriq.

Sekian dan terima kasih :)

* * *

Referensi
  1. Baits AN. Amalan di hari tasyrik [dikutip tanggal 1 September 2017]. Diakses pada: https://konsultasisyariah.com/14538-amalan-di-hari-tasyrik.html
  2. Tuasikal MA. Apa itu hari tasyrik? [dikutip tanggal 1 September 2017]. Diakses pada: https://rumaysho.com/9015-hari-tasyrik.html
  3. Tuasikal MA. Amalan pada hari tasyriq [dikutip tanggal 1 September 2017]. Diakses pada: https://rumaysho.com/681-amalan-di-hari-tasyriq.html
  4. Tuasikal MA. Fikih puasa (6): hari dilarang puasa [dikutip tanggal 1 September 2017]. Diakses pada: https://muslim.or.id/17034-fikih-puasa-6-hari-dilarang-puasa.html

Comments

  1. Terima kasih, sangat bermanfaat.

    Btw kalo di arab sana malah hari besar yang dirayakannya malah idul adha ya? Sebenernya lebih utama idul fitri atau idul adha sih bang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sebenarnya kurang tahu bagaimana perayaan hari raya islam di negara Arab sana dan hari raya mana yang lebih utama. Menurut saya, masing-masing hari raya punya keutamaan dan keistimewaannya sendiri. Namun, ada baiknya bertanya langsung kepada ahlinya hehe :D
      Kemungkinan idul adha lebih meriah di negeri Arab karena bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji disana

      Delete
  2. ah, suka tulisannya bay.. referensinya bagus wahahahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha makasih banyak ndi. Semoga bermanfaat :)

      Delete
  3. Yaaachhh, saya telah baca tulisan penting ini. Sekarang udah lewat hari Tasyriqnya, udah ludes juga dagingnya. Hehehe... Selamat tinggal daging kambing, selamat datang kembali kerupuk dan tempe goreng. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak apa-apa, pak Irham. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu dengan hari raya Iduladha dan hari-hari tasyriq pada tahun yang akan datang. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk pak Irham khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya :)

      Delete

Post a Comment