Hari Pramuka dan Permasalahannya di Pekanbaru

Hari Senin, tanggal 14 Agustus 2017, adalah hari ulang tahun Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) Indonesia ke-56. Saya menjadi teringat kembali pada masa-masa SMA dahulu, dimana saya menjadi anggota Pramuka di SMA Negeri 1 Pekanbaru. Banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan selama menjadi anggota Pramuka, terutama saat menjalani perkemahan dan lintas alam. Terima kasih Pramuka dan selamat Hari Pramuka ke-56 kepada seluruh rakyat Indonesia umumnya dan seluruh Gerakan Pramuka Indonesia khususnya.


Mengapa tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka? Mengutip tulisan di website Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia,
Secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada khalayak pada tanggal 14 Agustus 1961 sesaat setelah Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961. Sejak itulah maka tanggal 14 Agustus dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka.
Untuk merayakan Hari Pramuka tersebut, Gerakan Pramuka Provinsi Riau melaksanakan kegiatan Apel Akbar Pramuka dengan mengundang seluruh anggota Pramuka, pelajar, dan santri yang ada di Provinsi Riau. Berdasarkan publikasi yang dilakukan, apel akbar dilakukan di Jalan Gajah Mada Kota Pekanbaru mulai dari pukul 06.00 WIB. Apel akbar Pramuka di Pekanbaru tahun ini juga memperoleh piagam rekor dari MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai apel akbar Pramuka dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu lebih dari 15.000 orang.

Saya pun turut serta menjadi penonton acara tersebut karena kebetulan rumah saya berada tidak jauh dari lokasi apel akbar Pramuka. Berdasarkan pengamatan saya, acara yang dijadwalkan mulai pada pukul 06.00 WIB baru dimulai pada pukul 08.30 WIB. Hal ini dikarenakan adanya pengisi acara apel akbar tersebut yang terlambat datang karena terjebak kemacetan. Di luar hal itu, apel akbar berjalan dengan lancar mulai dari awal hingga akhir acara.

Berbicara tentang kemacetan, hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh pengisi acara apel akbar yang terlambat tadi, tetapi dirasakan oleh seluruh warga Kota Pekanbaru yang berlalu lintas di Jalan Gajah Mada dan sekitarnya. Hari Senin yang dikenal sebagai hari yang sangat sibuk ditambah puncak lalu lintas Pekanbaru memang terjadi pada pagi hari menambah hiruk-pikuk kemacetan pagi itu. Aktivitas beberapa orang pagi itu terkendala karena kemacetan yang terjadi akibat banyaknya jalan yang ditutup dan pengalihan arus lalu lintas yang padat ke jalur alternatif yang merupakan jalan-jalan kecil. Berdasarkan berita yang saya baca, pihak pelaksana kegiatan menyampaikan permohonan maaf karena ia tahu kemacetan seperti itu tidak akan bisa dihindari.

Sebenarnya kemacetan seperti itu tidak terjadi pada hari ini saja. Sebelumnya sudah sering ada kegiatan yang dilaksanakan di Jalan Gajah Mada dan Jalan Diponegoro. Kemacetan yang terjadi pun juga luar biasa. Mengapa saya bisa berbicara seperti ini? Karena saya pernah menjadi salah satu korban kemacetan tersebut. Sekitar bulan November 2016 yang lalu, pada pagi hari pula, ada acara yang dilaksanakan di Jalan Gajah Mada dan Jalan Diponegoro *saya lupa apa acaranya saat itu. Saya juga ingin berangkat ke RSUD Arifin Achmad yang berada di Jalan Diponegoro pada pagi itu. Perjalanan yang biasanya bisa saya tempuh selama 15 menit berubah menjadi lebih dari 1 jam perjalanan. Mungkin memang tidak separah kemacetan di pusat kota lainnya, namun kemacetan seperti ini di Pekanbaru sangat jarang terjadi.

Hal inilah yang sangat saya sayangkan: mengapa kegiatan sebesar ini malah dilaksanakan di badan jalan? Terlebih lagi kegiatan dilakukan pada saat puncak arus lalu lintas Pekanbaru, yaitu saat pagi hari, dan jalan yang digunakan juga merupakan jalan di pusat kota. Jika sudah tahu kegiatan seperti itu akan menyebabkan kemacetan, mengapa masih mengadakan kegiatan di tempat itu? Permohonan maaf yang disampaikan tidak akan menyelesaikan masalah karena masalah awalnya adalah menggunakan badan jalan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan. Saya juga menduga jalan-jalan disekitarnya digunakan sebagai tempat parkir bagi para peserta yang hadir. Bukankah hal ini semakin menambah kemacetan? Namun, perlu dicatat bahwa ini adalah hal yang sangat saya sayangkan. Saya tidak tahu apakah orang lain juga menyayangkan hal yang sama. Perlu ditekankan juga hal ini hanyalah pendapat dan kritik dari saya, bukan upaya untuk menjelek-jelekkan atau menghina. Tolong jangan penjarakan saya karena tulisan ini :D

Karena saya tidak ingin dicap sebagai tukang kritik tanpa solusi, saya memikirkan solusi yang mungkin dapat dilakukan. Apel akbar pagi ini membuat saya berpikir, “apakah tidak ada sebuah lapangan yang cukup besar untuk dijadikan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan ini?” Saya memikirkan beberapa tempat, seperti Lapangan Pancasila di Jalan dr. Sutomo, Lapangan Awal Cross di Jalan Jendral Sudirman, Lapangan Purna MTQ di Jalan Jenderal Sudirman, Stadion Kaharuddin Nasution Rumbai, Stadion Utama Riau, dll. Apakah tidak ada satu pun tempat-tempat yang saya sebutkan tadi yang bisa dijadikan tempat untuk melaksanakan kegiatan? Jika memang tidak bisa, bagaimana jika dibuatkan sebuah lapangan akbar yang sangat besar di Kota Pekanbaru ini yang bisa dijadikan sebagai pusat pelaksanaan kegiatan di Kota Pekanbaru atau Provinsi Riau? Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa alasan kegiatannya dilakukan di badan jalan. Mungkin saja pihak panitia sudah mencoba mengurus perizinan untuk melakukan kegiatan di lapangan-lapangan tadi, namun tidak mendapatkan izin karena bentrok dengan kegiatan lain. Jika hal seperti itu yang terjadi, saya mohon maaf karena telah berprasangka buruk. Tetapi, usul untuk membuat sebuah lapangan akbar yang sangat luar biasa besar di Kota Pekanbaru ini menurut saya tidak terlalu buruk :D

Ya, semua hal di atas hanyalah pendapat pribadi saya. Tidak ada maksud setitik nila pun untuk menjelek-jelekkan atau menghina pihak tertentu. Semoga hal ini menjadi evaluasi untuk kita semua.

Wal akhir, selamat hari Pramuka ke-56! Salam Pramuka!

Comments

  1. SETUJU! aku sampai muter-muter buat ke kantor yg lokasinya di Gajah Mada T.T Sambil mikir, kok ga diadain di Kemah Pramuka (di Siak) aja atau yang di Rumbai gitu lebih ke-pramuka-wi..

    btw kita dulu sama-sama pramuka ya? wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga ya. Padahal udah ada bumi perkemahan pramuka yang dikhususkan untuk kegiatan pramuka.

      Hahaha iya ndi, we are pramuka, ta-ci-pa-pa-re-ra-he-di-ber-su :D

      Delete

Post a Comment