Curahan Hati Seorang Pejalan Kaki

Syukur alhamdulillah Sabtu pagi ini merupakan pagi yang cerah. Syukur alhamdulillah pula saya bisa bangkit dari tidur sekitar jam 7 pagi. Ini merupakan sebuah prestasi bagi saya, mengingat sulitnya untuk bangkit dari tidur sepagi itu di tengah kesibukan sebagai pengangguran yang tengah saya alami beberapa bulan belakangan ini. Perlu dicatat juga bahwa, bagi saya, bangkit dari tidur berbeda dengan bangun tidur. Bangun tidur itu kedua mata memang sudah terbuka, tetapi jiwa dan raga tidak beranjak sedikit pun dari tempat tidur. Tidak heran bahwa kita akan tertidur kembali jika seperti ini. Berbeda dengan bangkit dari tidur dimana badan sudah bergerak menjauhi tempat tidur walaupun kadang hati nurani masih menuntut haknya untuk tidur lebih lama *eh

Pembukaan macam apa ini? -_- Mari kita lanjutkan benang merahnya.

Pagi ini saya manfaatkan waktu untuk membawa mobil ke bengkel agar ia mendapatkan perawatan yang sudah lama didambakan olehnya *ketahuan jarang di-service -_- Setibanya di bengkel yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, saya bertemu dengan montir dan dijelaskan beberapa hal tentang otomotif yang sulit untuk saya pahami, tetapi ada dua hal yang saya tahu pasti. Pertama, biaya service mobil ternyata tidak murah! Kedua, saya tidak membawa cukup uang! Entah mengapa harga yang ditawarkan oleh montirnya jauh melambung dibandingkan dengan harga service yang saya ketahui sebelumnya. Jika sudah begini, terpaksa mencari tambahan uang dengan cara meminta-minta mengambil simpanan di tabungan. Tidak ada kendaraan yang bisa dibawa, kecuali kendaraan yang paling murah di dunia, yaitu kedua tungkai. Benar, saya harus berjalan kaki mencari mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri).

Sejauh mata memandang, saya tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mesin ATM. Saya memutuskan untuk pergi ke ATM yang berada di pom bensin terdekat yang jaraknya kira-kira 400 meter dari bengkel. Ya, aktivitas fisik yang cukup baik untuk memeras keringat. Salah satu kenikmatan dari berjalan kaki adalah kita dapat memperhatikan lingkungan sekitar dengan lebih baik dibandingkan saat berkendara. Di tengah observasi saat berjalan kaki, saya sempat merasa heran, “mengapa hanya saya sendiri yang berjalan kaki? Dimana pejalan kaki lainnya? Kalau dibandingkan dengan kondisi pejalan kaki dalam film luar negeri, seperti Jepang, Inggris, atau Amerika, jumlah pejalan kakinya sangat banyak. Apa mungkin itu semua di-setting untuk film?” Sepanjang perjalanan, saya hanya melihat satu orang pejalan kaki selain saya. Sayangnya, ia berjalan dengan sangat santai walaupun tidak menggunakan alas kaki dan celana *kemungkinan orang dengan gangguan jiwa -_- Padahal trotoar di Pekanbaru ini jauh lebih aman dibandingkan dengan trotoar di ibukota dimana pejalan kaki harus bergulat dengan sepeda motor di daerah kekuasaannya sendiri. Walaupun sebenarnya di Pekanbaru ini dapat juga kita temukan beberapa oknum pengendara sepeda motor yang mencoba naik ke atas trotoar dan melawan arus lalu lintas.

Adakah yang janggal pada gambar di atas?

Benar saja, modernisasi yang sedang terjadi dan era serba digital yang sedang kita jalani saat ini membuat kita malas untuk bergerak sehingga tidak heran kita temukan banyak orang yang enggan untuk berjalan kaki. Sudah menjadi sifat umum bagi manusia untuk mencari jalan termudah dan tidak ada hal yang lebih mudah selain menekan-nekan layar gadget yang ada di tangan kita untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Jika ingin makan-minum, tinggal telepon atau gunakan jasa online untuk delivery. Jika ingin berbelanja, tinggal buka aplikasi toko online. Jika ingin melakukan transaksi bank, tinggal gunakan layanan mobile banking. Jika ingin bepergian, tinggal gunakan jasa angkutan online dan Anda akan dijemput beberapa saat kemudian. Ada lagi yang ingin menambahkan? :D

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah salah satu fasilitas untuk pejalan kaki yang, menurut saya, telah terabaikan: jembatan penyeberangan. Saat saya sedang berkendara melewati jalan dengan aktivitas lalu lintas yang cukup ramai, saya selalu heran mengapa pejalan kaki masih saja menyeberang melalui badan jalan, padahal jembatan penyeberangan telah disediakan untuk menjamin keamanan pejalan kaki saat menyeberang. Pagi ini, untuk menjawab rasa penasaran saya dan karena saya ingin menyeberang jalan dengan aman, saya menaiki jembatan penyeberangan yang berada di dekat Lapangan Purna MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Pekanbaru.

Seperti yang Anda kira, tidak ada pengguna jembatan penyeberangan selain saya saat itu. Kondisi jembatan masih cukup baik *mungkinkah karena jarang digunakan? Anda pun bisa mengabadikan beberapa momen di atas jembatan ini karena jembatan penyeberangan bukanlah tempat yang buruk untuk berfoto :D Beberapa “coretan rakyat” juga dapat ditemukan di jembatan ini. Hal ini sudah biasa kita temukan di beberapa fasilitas umum. Dua hal yang menjadi perhatian khusus adalah: lubang dengan ukuran cukup besar yang saya temukan di atas jembatan ini dan larangan untuk memasang spanduk, stiker, atau poster di jembatan penyeberangan. Saya baru tahu kalau ada larangan untuk memasang spanduk dan sebagainya di jembatan penyeberangan. Mungkin saja masih ada yang melakukan hal itu karena tulisan peringatan itu sudah buram. Semoga hal ini dapat segera diperbaiki sehingga pejalan kaki, walaupun jumlahnya sangat sedikit, dapat merasa aman dan nyaman saat menggunakan jembatan penyeberangan.

Kondisi jembatan penyeberangan yang masih cukup baik

"Coretan rakyat" di jembatan penyeberangan

Coretan rakyat di jembatan penyeberangan

Lubang di jembatan penyeberangan

Larangan memasang spanduk di jembatan penyeberangan sekaligus contoh pelanggarannya

Sekian curahan hati saya menjadi pejalan kaki pada pagi hari ini. Semoga tidak bermanfaat dan terima kasih sudah membaca tulisan ini :)

Comments

  1. nah alhamdulillah udah bahasa indonesia ini tulisan kau bay. hahaha. jadi saya sebagai pengguna sepeda motor, jalur pedestrian yang kau lewati itu emang sepi. Itu karena, mau kemana? karena tidak ada pusat perbelanjaan, tidak ada pusat keramaian, yang ada cuma ruko-ruko minim pengunjung.. Bandingkan sama pedestrian di dekat MP.. Rameee..

    Btw serpis mobil emang mahal yo T.T untung belum punya mobil awak bay T.T

    *padahal pengen*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang sebelumnya nggak bahasa Indonesia ya? -_-

      Hahaha iya juga ya ndi. Jadi kayak aku yang aneh sendiri karena jalan kaki di sekitaran situ :))

      Semoga dilancarkan dan dimudahkan rezeki kita semua ndi. Aamiin ya Allah.

      Delete
  2. Jangankan di kota, di desa saja sudah mulai berkurang pemandangan pejalan kaki, Mas. Sekadar untuk beli sabun di warung sebelah, mereka lebih memilih motor daripada berjalan kaki. Mungkin sudah zamannya Indonesia begini, ya, Mas.. Hehe...
    Eh, itu ada lubang di jembatan penyeberangan, semoga segera diperbaiki/ditutup oleh pihak terkait. Kalau tidak, bisa berbahaya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga sih mas. Apalagi kalau tempat tujuannya dekat, naik motornya nggak pakai helm hahaha :))
      Betul bisa berbahaya itu lubangnya. Semoga bisa segera diperbaiki. Aamiin.

      Delete
  3. semakin pesatnya perkembangan era digital membuat pejalan kaki semakin langka, yang menggunakan trotoar pun para pengendara motor, kadang mereka menggunakan jembatan penyebrangan juga....
    para pejalan kaki hanya bisa ditemui di Jakarta CFD....tapi saya tidak tahu di Pekanbaru dimana bisa ditemui para pejalan kaki itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah kayak film action ya, motornya naik ke jembatan penyeberangan hahaha :))

      Di Pekanbaru juga ada CFD setiap hari Minggu pagi di Jalan Diponegoro dan Jalan Gajah Mada. Apakah mas Buret (bolehkah dipanggil mas Buret? -_-) tinggal di Jakarta? Ayo sekali-sekali main ke Pekanbaru hehe :D

      Delete
  4. 1. assalamualaikum wr.wb.
    2. aduh memang miris melihat kondisi fasilitas pejalan kaki yang tak terawat baik dan sering diserobot pula
    3. Eh kota pekanbaru kok masih sepi ya kalau saya lihat
    4. Di gambar tadi ada bus, seperti sebuah trans Metro
    5. sekian, wassalamualaikum wr. wb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. *saya juga harus jawab tiap poin nih kayaknya

      1. Wa 'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
      2. Benar miris sekali. Semoga bisa lebih diperhatikan lagi di masa yang akan datang
      3. Udah makin padat kota Pekanbaru sekarang mas. Udah banyak jalanan yang macet hehe :D
      4. Iya betul, itu bus Trans Metro Pekanbaru, disingkat TMP :)
      5. Terima kasih, wa 'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      Delete

Post a Comment